Tampilkan postingan dengan label goudiya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label goudiya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 19 April 2009

Goudiya Vaishnava Sampradaya (5)

Untuk melengkapi posting terdahulu tentang Sri Goudiya Guru Varga, sekarang saya tambahkan bagan silsilah garis perguruan yang lebih mudah dilihat. Dengannya kita dapat membayangkan, bagaimana ajaran mulia ini diwariskan dari masa ke masa sejak awal dunia, tanpa pernah terputuskan.

Selasa, 14 April 2009

गौडीय Goudiya Vaishnava Sampradaya (4)

Srila Laksmipati Tirtha dinyatakan sebagai salah satu murid dari Srila Vyasaraja Tirtha, sehingga beliau termasuk dalam Vyasaraja Math. Tampaknya Srila Laksmipati Tirtha kemudian membawa ajaran ini dan pewarisan silsilah perguruan ke India Utara. Vaishnava yang agung Srila Madhavendra Puri Goswami menjadi murid dari Sri Laksmipati Tirtha. Srila Madhavendra Puri adalah perintis dari Viraha Bhajan, pemujaan dalam kerinduan yang menjadi ciri khas dari Goudiya Vaishnava saat ini. Beliau adalah peletak benih yang kemudian akan tumbuh, berbunga dan berbuah pada masa Tuhan Sri Caitanya. Beliau adalah guru dari Advaita Acharya, Nityananda Prabhu dan Isvara Puri Goswami. Srila Isvara Puri Goswami melayani dan mendampingi gurunya sampai saat-saat terakhir lila beliau di bumi. Sebagai hasil dari pengabdian sucinya kepada Sri Guru, Isvara Puri memperoleh Tuhan Yang Maha Esa Sri Krishna Caitanya Mahaprabhu sebagai muridnya.


Madhavendra Puri mendapatkan darshana Sri Gopaladeva, Tuhan sebagai Sang Anak Gembala

Tuhan Caitanya adalah yang dipertuan oleh semua Goudiya Vaishnava, yang merupakan cabang dari Brahma-Madhva Sampradaya. Tuhan Sri Caitanya menjelaskan seluruh filsafat Goudiya kepada enam Goswami dari Vrndavana. Srila Sanatana Goswami dikenal sebagai Sambandha Tattva Acharya (Acharya atau Guru Besar ilmu mengenai hubungan roh dengan Tuhan). Srila Rupa Goswami sebagai Abhideya Tattva Acharya (Acharya dalam tindakan yang dilakukan dalam hubungan antara roh dengan Tuhan) dan Srila Raghunatha dasa Goswami sebagai Prayojana Tattva Acharya (Acharya dalam pengetahuan tentang tujuan tertinggi). Para Goswami lainnya yaitu, Srila Gopala Bhatta Goswami, Srila Raghunatha Bhatta Goswami, dan Srila Jiva Goswami juga merupakan murid langsung dari Tuhan Caitanyadeva, mereka juga dikuasakan untuk mengajarkan berbagai pokok pengetahuan yang sangat luas, mulia dan mendalam dari garis perguruan ini. Parampara Goudiya khususnya dilanjutkan oleh Srila Rupa Goswami Prabhupada, sebagai Acharya kedua dan peletak dasar utama garis perguruan Goudiya. Oleh pengaruh beliau yang begitu besar, beliau dianggap teladan bagi para Acharya selanjutnya. Dan semua Acharya berikutnya disebut rupanuga (para pengikut Sri Rupa Goswami).
Acharya ketiga adalah Srila Raghunatha dasa Goswami. Beliau menganggap Sri Rupa dan Sanatana sebagai siksa gurunya, yaitu guru yang memberikan ajaran kepadanya. Acharya keempat adalah Srila Jiva Goswamipada, beliau adalah otoritas utama Goudiya setelah Sri Caitanya dan para Goswami lainnya kembali ke dunia rohani. Srila Jiva Goswami adalah pengajar yang paling sistematis dan beliaulah yang menata persatuan dalam garis perguruan Sri Caitanya. Acharya ke lima adalah Srila Krishna dasa Kaviraja Goswami, murid dari Srila Raghunatha dasa Goswami. Kaviraja Goswa-mi menganggap Sri Jiva Goswami sebagai siksa-gurunya. Setelah Sri Jiva berpulang maka Srila Kaviraja Goswami menggantikannya sebagai Acharya.
Srila Krishna dasa Kaviraja Goswami memiliki sahabat karib yang bernama Srila Lokanatha Goswami, murid dari Sri Gadadhara Pandita. Satu-satunya murid Sri Lokanatha adalah Srila Narottama dasa Thakur. Srila Narottama dasa melayani gurudevanya dan sahabat gurudevanya. Setelah Kaviraja Goswami berpulang maka Srila Narottama dasa Thakura menjadi Acharya ke enam. Beliau dikatakan mewarisi Krishna-prema dari Mahaprabhu Sri Caitanyadeva, dan adalah penerus garis perguruan yang diramalkan oleh Mahaprabhu Sendiri. Melalui murid utama beliau yaitu Srila Ganganarayana Cakravarthi, ajaran Mahaprabhu tersebar sampai Manipura dan daerah Assam. Mereka kemudian menjadi Manipuri Goudiya Vaishnava.
Murid Srila Narottama berikutnya adalah Sriyuta Krishna charana Cakravarthi dan murid beliau adalah Srila Radha Ramana Cakravarthi. Murid dari Srila Radha Ramana Cakra varthi adalah Srila Visvanatha Cakravarthipada Mahamaho-padhyaya. Srila Cakravarthipada meneruskan ajaran Srila Narottama dan mengabdikan seluruh hidupnya untuk mem-buat Goudiya Parampara disegani lagi. Oleh karena itu Srila Visvanatha Cakravarthipada diangkat sebagai Acharya ke tujuh setelah Tuhan Caitanya. Murid utama Srila Cakravarthi pada adalah Srila Baladeva Vidyabhusana, termashyur sebagai Goudiya-vedanta-acharya, penyusun ulasan Vedanta menurut garis perguruan Goudiya yang disebut Sri Govinda-bhasya. Beliau adalah Acharya ke delapan. Murid beliau adalah Uddhava dasa Babaji. Murid Uddhava Baba adalah Srila Madhusudhana dasa Babaji, yang merupakan guru dari Srila Jagannatha dasa Babaji. Srila Jagannatha dasa Babaji adalah pemimpin seluruh masyarakat Vaishnava, termashyur sebagai Vaishnava Sarvabhauma. Beliau adalah Acharya ke sembilan.

Srila Saccidananda Bhaktivinoda Thakura dikenal sebagai saptama Goswami (Goswami ke tujuh). Beliaulah yang pertama-tama memiliki gagasan untuk membanjiri seluruh dunia dengan karunia Mahaprabhu. Srila Jagannatha dasa Babaji adalah siksa guru utama dari Srila Bhaktivinoda. Maka Srila Bhaktivinoda Thakur adalah penerusnya sebagai Acharya ke sepuluh. Srila Gaura Kishora dasa Babaji adalah murid dari murid Srila Jagannatha dasa Babaji yang bernama Sri Bhagavata dasa Babaji. Beliau kemudian menganggap Srila Bhaktivinoda sebagai siksa-gurunya. Jadi beliau adalah Acharya yang ke sebelas.



Babaji Maharaja hanya memiliki satu orang murid. Beliau adalah cahaya Sri Vishnu Sendiri, Saktyavesha Avatara bernama Srila Bhaktisiddhanta Saraswati Goswami Maharaja Prabhupada. Srila Prabhupada Sarasvati Thakura mendirikan Sri Goudiya Math dengan enampuluh empat cabang di seluruh India.







Murid kesayangan beliau adalah Srila Abhaya Charanaravinda Bhaktivedanta Swami Srila Prabhupada pendiri dan Acharya International Society for Krishna Consciousness (ISKCON), yang telah menyebarkan amanat ajaran agung Goudiya dan nama suci Krishna ke seluruh dunia. Selain itu juga berkembang berbagai cabang Sri Goudiya Math di bawah pimpinan para Acharya yang menurun dari Srila Prabhupada Sarasvati Thakura. Setiap cabang Sri Goudiya Math dan ISKCON yang berasal dari Srila Sarasvati Thakur dan secara khusus merupakan kelanjutan dari Bhaktivinoda-dhara atau misi pengajaran dan penerus ajaran Srila Saccidananda Bhaktivinoda Thakura, adalah termasuk dalam Rupanuga-guru-varga. Di samping ini kita mengenal garis perguruan tradisional para Goswami yang berasal dari Advaita-dhara dan Nityananda-dhara, yang berasal dari keturunan maupun murid yang diinisiasi oleh Sri Advaita Acharya dan Sri Nityananda Prabhu. Mereka termasuk para Goudiya Vaishnava, namun tidak semua menerima Rupa-anugatya, sehingga kita tidak menggolongkan mereka sebagai Rupanuga-guru-varga. Garis Goudiya lainnya juga ada yang disebut Syamanandi Goudiya, berasal dari silsilah rohani Srila Syamananda Prabhu atau Duhkhi Krishnadasa, murid dari Srila Hridaya-caitanya Goswami. Beliau menerima Rupa-anugatya dan ajaran lebih lanjut (siksa) di bawah bimbingan Srila Jiva Goswamipada. Namun dari beliau kemudian berkembang garis perguruan yang disebut Syamanandi, dengan ciri khasnya tersendiri, berpengaruh besar di daerah Orissa. Sri Goudiya Vaishnava Sampradaya dengan berbagai cabangnya ini yang berlindung kepada Sriman Mahaprabhu Sri Caitanyadeva adalah merupakan cabang dari Sri Brahma-Madhva Sampradaya yang tidak terpisahkan. Ini merupakan garis Tattvavada yang sama.

Senin, 13 April 2009

गौडीय Goudiya Vaishnava Sampradaya (3)

Vyasaraja Math
Murid Sri Madhva yang paling terkemuka adalah Srila Padmanabha Tirtha, Srila Narahari Tirtha, Srila Madhava Tirtha dan Srila Aksobhya Tirtha. Mereka adalah para Acharya penerus Madhva yang secara bergantian menduduki Sarvajna-pitha. Murid Aksobhya adalah Sripad Jaya Tirtha, yang dikenal sebagai Tikarajacharya, dan setelah beliau Sripad Vidyadhiraja Tirtha menjadi Acharya di Sarvajna-pitha. Setelah Acharya Vidyadhiraja terbentuk cabang. Srila Kavindra Tirtha memimpin cabang pertama dan seperti disebutkan sebelumnya, menjadi sumber dari Uttaradi Math serta Raghavendra Svami Math di Mantralaya. Cabang kedua dipimpin Acharya Srila Rajendra Tirtha. Kemudian oleh Srila Vijayadhvaja Tirtha, Srila Purusottama Tirtha, Srila Subrahmanya Tirtha, dan akhirnya Srila Vyasaraya Tirtha. Srila Vyasaraya atau Vyasaraja merupakan tokoh terbesar ketiga dalam Sampradaya Brahma, setelah Srila Tikarajacharya dan Srimadacharya Madhva.
Srila Vyasaraja merupakan guru dari Srila Purandara dasa. Beliau adalah yang berjasa mempopulerkan ajaran Madhva dalam bahasa Kannada, bahasa rakyat Karnataka. Inilah awal dari gerakan devosional paling revolusioner di daerah Karnataka yang dikenal sebagai gerakan Haridasa atau Dasakuta. Mereka menggubah berbagai lagu pujian dan menyampaikan ajaran bukan dalam bahasa Sanskrit sebagaimana layaknya golongan terpelajar. Namun mereka menjadikannya milik rakyat sepenuhnya dengan gerakan sankirtana berbahasa Kannada yang disebut Kannada-devaranama. Mereka juga membangkitkan kesusastraan berbahasa Kannada, Kannada Sahitya, yang secara khusus dikembangkan oleh para orang suci Haridasa, sehingga juga disebut Dasa Sahitya. Srila Vyasaraja sendiri dapat disebut sebagai ayah dari gerakan Haridasa ini. Haridasa juga merupakan bagian tak terpisahkan dari Sri Brahma-Madhva Sampradaya.

Srimad Vyasaraja Tirtha, matahari ketiga dalam Sampradaya. Beliau adalah guru dari Sri Laksmipati Tirtha yang menghubungkan Goudiya Vaishnava dengan parampara Madhva
















Sri Purandaradasa, penggagas gerakan Haridasa sekaligus salah satu bapak dari musik Carnatic (seni musik klasik India Selatan)

गौडीय Goudiya Vaishnava Sampradaya (2)

Math-math Dalam Madhva Parampara
Srimadacharya Madhva memiliki ratusan murid, namun pada akhir masa hidupnya di bumi, beliau memilih beberapa yang paling dekat sebagai penerusnya. Mereka ini menjadi para Acharya yang pertama dari Asta-math atau delapan biara utama yang masih ada sampai sekarang di Udupi, distrik Kannada Selatan, negara bagian Karnataka, India. Mereka meneruskan Brahma-Madhva Sampradaya atau yang juga dikenal sebagai Tattvavada Sampradaya.
Pembentukan delapan biara atau Astamath ini dilakukan oleh Srimadacharya dengan memanggil delapan murid utamanya secara berpasang-pasangan pada saat Caturmasya di Kanya Tirtha. Beliau mendudukkan mereka berdelapan di bawah sebatang pohon Pippala dan memanggilnya secara berpasangan, secara terpisah memberikan mereka mantra, metode puja, dan ritual yang diperuntukkan bagi bentuk-bentuk tertentu dari Tuhan Yang Maha Esa Sri Krishna. Mereka juga diserahi tanggung jawab untuk melanjutkan dan melestarikan ajaran-ajaran Srimadacharya sepeninggal diri beliau. Para Sannyasi yang memegang tahta suci delapan Math dari Tattvavada ini melaksanakan bhajana, pemujaannya kepada Sri Nrtya Gopala (Udupi Krishna), dalam perasaan cinta para Gopika, di bawah bimbingan delapan Nayika Gopi di Vrajabhumi. Sri Padmanabhachari, penulis dari biografi Sri Madhvacharya dalam bahasa Inggris, menyatakan, “Para pe-megang tahta Sri Krishna (di Udupi) secara bergiliran, adalah para Gopi di Vrindavan, yang digerakkan oleh perasaan cintanya kepada Sri Krishna dengan keluhuran yang tiada terlukiskan, kini menjelma ke dunia demi melaksanakan hak istimewanya memuja Beliau.” Mereka disebut Paryaya-svami.
Pasangan pertama yang dipanggil oleh Srimadacharya adalah Srila Hrisikesha Tirtha yang mendirikan Palimar Math dan Srila Narasingha Tirtha yang mendirikan Adamaru Math. Pasangan kedua adalah Srila Janardana Tirtha, mendirikan Krishnapur Math, dan Srila Upendra Tirtha, mendirikan Puttige Math. Pasangan ke tiga adalah Srila Vamana Tirtha, mendirikan Shiruru Math, dan Srila Vishnu Tirtha yang adalah saudara kandung Srimadacharya sendiri sebagai pendiri Sode Math. Pasangan terakhir adalah Sri Rama Tirtha, mendirikan Kaniyuru Math, dan Srila Adhoksaja Tirtha, yang menjadi Acharya pertama Pejawar Math. Pada awalnya mereka secara bergiliran setiap dua bulan sekali menjadi penanggung jawab pelaksanaan puja harian di Udupi Sri Krishna Math, pusat dari biara utama yang didirikan Srimadacharya, dan merupakan kedudukan Sarvajna-pitha, Tahta Yang Mahamengetahui.
Selain Astamath terdapat delapan Math atau biara lagi di daerah Karnataka. Mereka adalah Uttaradi Math, yang merunut silsilah pemegang tahta sucinya sampai pada Srila Padma-nabha Tirtha (murid utama Srimadacharya yang menduduki Sarvajna-pitha setelah beliau), lalu Sosale Math yang berasal dari Srila Narahari Tirtha, Kundapura Math dari Srila Madhava Tirtha, dan Raghavendra Math dari Srila Aksobhya Tirtha. Sosale dan Kundapura Math berada di bawah pengelo-laan Sri Vyasaraja Math. Lalu ada cabang lain yang disebut Mulabagilu Math, berasal dari Srila Padmanabha Tirtha juga, yang menjadi kedudukan tahta suci Srila Sripadaraja Tirtha. Berikutnya ada Majjigehali Math yang juga dirintis oleh Srila Madhava Tirtha, dan Kudli serta Balegaru (Banagara) Math yang dirintis oleh Srila Aksobhya Tirtha.
Selain enambelas Math ini masih ada empat lagi yang merunut garis perguruannya ke dalam Madhva Sampradaya yaitu Subrahmanya Math, Bhandarkeri Math, Bhimannakatte Math, dan Citrapura Math. Subrahmanya Math berasal dari garis Srila Vishnu Tirtha. Lalu garis perguruan yang berasal dari Acyutapreksacharya, yaitu sannyasa-guru dari Srimad acharya, dilanjutkan oleh murid beliau yang kemudian menerima Srila Purusottama Tirtha sebagai gurunya. Sehingga garis perguruan ini juga tergabung dalam garis perguruan Madhva. Dari garis ini terbentuk dua Math, yaitu Bhandarkeri dan Bhimannakatte. Bhandarkeri Math sekarang di bawah pengelolaan Palimar Udupi Math. Citrapura Math merupakan cabang dari Pejawar Math yang didirikan oleh Srila Adhoksaja Tirtha.
Dua Math lagi didirikan dalam tradisi Madhva yaitu Gokarna-Partagali-Jivottama Math, gabungan tiga biara yang didirikan Srila Narayana Tirtha, yang menerima sannyasa dari Srila Ramacandra Tirtha pemegang tahta suci Palimar Math yang ke sepuluh, dan Kashi Math di Kanyakumari. Sedangkan di utara terbentuklah Brahma-Madhva-Goudiya Math yang merunut silsilah garis perguruannya dari Sri Vyasaraja Math.

Srimad Madhvacharya Bhagavatapada memuja Udupi Krishna di Vedanta-pitha

















Srimad Jayatirtha Tikarajacharya, matahari kedua setelah Madhva sampradaya














Srimad Sripadaraja Tirtha, salah satu Acharya yang paling terkemuka dalam Madhva-sampradaya. Beliau dikenal sebagai kakek gerakan Haridasa

Minggu, 12 April 2009

गौडीय Goudiya Vaishnava Sampradaya (1)

Brahma Caturmukha, permulaan dari Sampradaya kita

Sebagian besar orang menganggap bahwa para Goudiya Vaishnava menjadi bagian dari Brahma-Madhva Sampradaya hanya sebatas hubungan dalam silsilah garis perguruan yang dapat ditelusuri sampai Srila Laksmipati Tirtha – Srila Madhavendra Puri Gosvamipada. Kebesaran garis perguruan yang luar biasa ini terutama di Indonesia mungkin hanya diketahui sebatas daftar para guru dalam parampara (silsilah garis perguruan) sebagaimana dimuat oleh Srila A.C. Bhaktivedanta Svami Prabhupada dalam Bhagavad-gita Menurut Aslinya.
Brahma Sampradaya sesuai dengan namanya adalah berawal dari Brahma, makhluk hidup pertama di alam semesta ini. Siapakah Brahmaji ini? Dalam Brhad-bhagavata-amrita 1.2.45-46 dikisahkan bagaimana Sri Narada menemui Ayahandanya, yaitu Brahma, yang dilayani dengan penuh kemewahan yang menakjubkan di alam tertinggi dari seluruh manifestasi kosmis ini yang disebut Satyaloka. Sri Narada bersujud kepadanya dan berkata, “Paduka adalah tempat tercurahnya segala karunia Pribadi Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa Bhagavan Sri Krishna. Paduka adalah yang dipertuan oleh semua Prajapati dan nenek moyang dari semua makhluk. Paduka sendiri menciptakan, memelihara dan meleburkan keempatbelas sistem dunia. Paduka disebut Svayambhu, karena Paduka lahir sendiri sebagai penguasa seluruh alam semesta. Dari keempat bibir padmamu, Veda, Purana, dan semua sastra-sastra suci lainnya, tercipta sebagai penuntun yang menunjukkan tujuan hidup. Mereka kemudian mewujudkan diri dalam berbagai pribadi yang berkumpul di dalam ruang sidangmu. Tinggal di alammu adalah para makhluk suci, yang terbebas sepenuhnya dari keakuan palsu dan kebanggaan. Bersih dari segala noda kesalahan. Setelah menjalani seratus kehidupan dengan melaksanakan svadharma tanpa ada celanya. Di seluruh alam semesta ini tidak ada alam yang lebih tinggi dari kediaman Paduka ini, bahkan Vaikuntha dari Sriman Narayana tampaknya juga berada di sini. Di Satyaloka ini Bhagavan Padmanabha bersemayam dalam wujud Mahapurusha-Nya, memakan secara langsung segala persembahan korban suci, dan memberikan segala pahala kepada para penyembah langsung dari tangan-Nya. Ketika pada awal Paduka muncul, Paduka mencari-cari Beliau yang menjadi sumber diri Paduka, namun setelah begitu lama Paduka belum juga memperoleh darshan-Nya. Kemudian dengan kekuatan pertapaan Paduka, akhirnya Beliau hadir di dalam hati Paduka. Karena itu sungguhlah Paduka dikasihi oleh Tuhan Sri Krishna. Bahkan sesungguhnya Paduka tidak saja dikasihi oleh Sri Krishna, Paduka tiada berbeda dengan Beliau, yang telah menerima berbagai Rupa demi melaksanakan lila semata.” Seperti inilah Sri Narada memuliakan Brahma, sebagaimana pemujian yang telah didengarnya dari Deva Indra sendiri. Tetapi ketika Sri Brahmaji mendengar kemuliaannya dipuji-puji, beliau menjadi gelisah dan menutu-pi kedelapan telinganya. Beliau berkata berulang-ulang dengan keempat bibirnya, “Hamba hanyalah pelayan Tuhan.”
Pada bagian lain dari Brhad-bhagavatamrita (2.2.125-128) ada dikisahkan bagaimana Empat Kumara menggambarkan Brahma kepada Gopa-kumara. “Beliau adalah ayah bagi semua Prajapati. Beliaulah pencipta seluruh alam semesta dan juga adalah ayah kami. Beliau lahir sendiri dan dengan penuh kejayaan menduduki jabatan yang paling tinggi di alam ini. Beliau menjaga, melindungi, dan membimbing seluruh alam semesta. Beliau tinggal di Satyaloka, yang berada lebih luhur dari segala sistem dunia, yang hanya dicapai oleh mereka yang melaksanakan dharmanya tanpa cela selama seratus kelahiran. Sri Vaikunthaloka juga ada di sana, tempat Sri Jagadisvara Bhagavan hadir secara kekal sebagai Pribadi Tertinggi yang memiliki ribuan kepala. Kami telah mendengar bahwa Brahmaji adalah putra dari Sang Pribadi Tertinggi itu, karena beliau muncul dari pusar padma-Nya. Menurut kami bahkan beliau tiada berbeda dari Mahapurusha Sendiri.” Kemudian pada sloka 133-134 dijelaskan bahwa Sri Bhagavan Sendiri mengajar Sri Brahma segala intisari jalan rahasia Bhakti. Seperti inilah Brahma hadir di kediamannya yang luhur itu. Beliau senantiasa mendengarkan ajaran-ajaran langsung dari Sri Bhagavan dengan penuh sukacita, sedangkan beliau sendiri juga selalu memuliakan ajaran-ajaran itu dan mempersembahkan pranamanya berulang-ulang kepada Tuhan. Jadi kita mengenal Sri Brahmaji sebagai Adi-sishya, murid pertama dari Tuhan Sendiri. Pribadi yang paling dimuliakan di seluruh ciptaan ini. Inilah Brahma yang menjadi guru pertama dalam Sampradaya.
Dalam kitab Mani-manjari, Srila Narayana Panditacharya menjelaskan bahwa Brahma menerima inisiasi mantra dari Tuhan Sendiri sebagai Hamsanamaka Paramatma. Hamsa namaka Paramatma ini ada dijelaskan dalam Laghu-bhagavatamrita oleh Sri Rupa Goswamipada, "tubhyam ca narada bhrisam bhagavan vivriddhabhavena sadhi paritusta uvaca yogam jnanam ca bhagavatam atma-satattva-dipam yad vasudeva-sarana vidur anjasaiva, Bhagavan Sri Hamsa dijelaskan dalam Srimad Bhagavatam 2.7.19 sebagai berikut, Wahai Narada, engkau telah diajari mengenai ilmu pengetahuan tentang Tuhan dan pelayanan cinta kasih rohani kepada-Nya oleh Sri Hamsa, yang adalah Inkarnasi dari Pribadi Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa Sendiri. Beliau begitu puas dengan dirimu, karena cinta bhaktimu kepada-Nya yang amat sangat besar. Beliau juga telah menjelaskan dengan sangat terperinci kepadamu, rahasia pengetahuan pengabdian suci yang selengkap-lengkapnya, yang hanya dapat dipahami oleh para jiva yang telah menyerahkan dirinya kepada Sri Vasudeva, Tuhan Tertinggi. Mengenai Inkarnasi-Nya sebagai Sri Hamsa, Tuhan Sendiri bersabda, “sakto 'khila-viveko 'ham ksira-nira-vibhaga-vat iti vyanjann ayam rajahamso vyaktim jalad gatah, Sesosok Angsa Mulia muncul dari dalam air. Sebagaimana seekor angsa yang dapat memisahkan susu yang tercampur dengan air, maka Aku mahamengetahui sifat segala sesuatu.”
Kemudian Sri Brahma memberikan inisiasi kembali kepada Caturkumara. Dari Caturkumara dilanjutkan kepada Durvasa Maharishi yang disebutkan dalam Sri Gopala-tapaniya Upanisad. Durvasa Maharishi memberikan mantra kepada Srila Jnananidhi Tirtha, kemudian Srila Garudavahana Tirtha, selanjutnya secara turun-temurun diwariskan kepada Srila Kaivalya Tirtha, Srila Jnanesha Tirtha, Srila Para Tirtha, Srila Satyaprajna Tirtha, dan Srila Prajna Tirtha. Setelah beberapa generasi guru dalam garis Srila Prajna Tirtha, maka sampailah kepada Srila Acyutapreksha Tirtha, diksa-guru sekaligus sannyasa-guru dari Srila Purnaprajna Ananda Tirtha atau Srila Madhvacharya Bhagavatapada.
Sedangkan dalam Gaura-ganoddesha-dipika oleh Srila Kavikarnapura, Prameya Ratnavali oleh Srila Baladeva Vidyabhusana, dan Guru-parampara oleh Srila Prabhupada Bhaktisiddhanta Sarasvati Thakura dijelaskan bahwa Brahma mewariskan pengetahuan rohani kepada Sri Narada, Sri Narada kepada Bhagavan Vedavyasa, lalu kepada Srila Madhvacharya. Kita memahami bahwa garis perguruan dalam Mani-manjari merupakan pewarisan mantra, sedangkan garis perguruan berikutnya adalah berdasarkan pewarisan Vedanta dan Tattva-siddhanta.

Sri Brahma menerima Omkara, Gopala-mantra, Gayatri, dan Catusloki Bhagavata dari Parambrahma Bhagavan Sri Krishna. Dari sinilah kemudian muncul Veda, yang memancar dari keempat bibir padma Brahma, sehingga disebut juga Nigama atau Amnaya. Parambrahma sebagai Hamsha-paramatma kemudian bersemayam di hati Brahma. Lalu Parambrahma sebagai Sri Sri Laksmi Hayavadana mengungkapkan pengetahuan Agamasastram atau Tantrasastram ketika Madhu Kaitabha mencuri Veda dari Mana (pikiran) Brahma. Nigama dan Agama menjadi penuntun utama bagi pengikut garis perguruan Brahma.
Narada Munindra, Putra Brahma, Acharya selanjutnya dalam garis parampara
Bhagavan Vedavyasa, penyusun Veda-Vedanta dan semua sastra pelengkapnya.

Plurk

Click untuk perbaiki dunia

Stop Smoking