Tampilkan postingan dengan label vedanta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label vedanta. Tampilkan semua postingan

Senin, 07 September 2009

PUSTAKA SUCI VAIDIKA DALAM HINDU


Hindu memiliki kekayaan pustaka suci yang luar biasa besar dan luasnya. Selama ini kebanyakan dari kita hanya sekedar mengetahui bahwa pustaka suci Hindu adalah Veda. Dalam pengertian luas, Veda ini mencakup seluruh literatur yang disebut Sruti-sastram, Smriti-sastram (atau Dharma-sastram), Sad-angam, dan Upa-angam. Secara keseluruhan semua ini disebut sebagai Vaidika-sastram atau Pustaka Suci Vaidika. Vaidika berarti tergolong Veda atau bisa juga diterjemahkan “bersifat” Veda (Vedic in nature).

Sruti-sastram merujuk kepada Empat Veda Utama yaitu Rik, Yajus, Sama, dan Atharva yang masing-masing dibagi menjadi Saakha. Masing-masing Saakha memiliki bagian Samhita (kumpulan mantra), Brahmana (aplikasi mantra-mantra dalam yajna/ritual-persembahan), Aranyaka (penjelasan esoteris di balik mantra dan yajna), dan Upanishad (bahasan atas paratattva atau kebenaran tertinggi). Sruti selama ini biasanya dijelaskan sebagai revelasi “yang langsung didengar”. Definisi ini seakan membuatnya terbatas seperti wahyu-wahyu yang didengar oleh para nabi agama non-Vedik. Padahal para Rishi Veda disebut sebagai drishta, “yang melihat”, mengandung makna bahwa mereka menginsafi pengetahuan itu melalui pengalaman langsung (brahma-sakshatkaram). “Bertatap muka” dengan Sang Kebenaran yang kemudian terungkapkan atau tersingkapkan oleh para Rishi sebagai mantra yang mengandung Kebenaran itu dalam wujud Suara (Shabdam). Suara Rohani ini tidak dapat diinsafi tanpa mendengarnya secara langsung. Sekalipun Bhagavan Vedavyasa kemudian menghadirkannya dalam bentuk tertulis, namun ini adalah demi alasan pelestarian. Sruti tidak dapat dipelajari dengan cara membaca seperti buku biasa, tetapi harus melalui mendengar. Itulah sebabnya dalam Veda-pathasala atau sekolah Veda tradisional yang asli, para sishyam mempelajarinya dengan cara mendengar dengan aturan-aturan pengucapan yang sangat ketat. Sistem ini dilaksanakan tanpa terputus melalui sistem garis perguruan yang dilindungi bahkan hingga sekarang, sekalipun sebagian besar dari keseluruhan Veda Saakha sudah punah. Penerjemahan Sruti sebenarnya adalah sesuatu yang tak masuk akal dan mustahil. Ini hanya terjadi karena pengaruh budaya akademis bergaya Barat. Makna mantra-mantra dalam Sruti-sastram hanya bisa diketahui melalui mendengar dan menginsafinya saja. Sri Madhva mengatakan bahwa dalam satu mantra Veda paling tidak terkandung tiga makna, dalam satu sloka Mahabharata terkandung sepuluh makna, dan satu Nama dalam Vishnu-sahasranama-stotra mengandung seratus makna. Penerjemahan Sruti melalui studi bahasa hanya mengungkapkan sebagian kecil saja dari kebenaran itu, bahkan sering menimbulkan kontradiksi antar beberapa pernyataan Sruti. Jadi tiada cara lain untuk mempelajarinya kecuali dengan mendengar dari Sad-acharya, guru kerohanian sejati yang telah tercerahkan. Dalam Sad-sampradaya yang adalah garis para Sad-acharya, segala ajaran haruslah bebas dari kontradiksi antar pernyataan Veda sebagaimana dinyatakan oleh Sri Vedanta Desika dalam kitab Sampradaya-parisuddhi. Sesungguhnya karena alasan inilah dia disebut Sruti.

Smriti-sastram juga sering disalahpahami sebagai pengetahuan yang berasal dari ingatan para Rishi. Jadi terbentuk pemikiran non-konservatif dan spekulatif yang menganggap karena ini berdasarkan “ingatan”, jangan-jangan ada yang “terlupakan” oleh para Rishi dari keseluruhan “yang telah didengarnya”. Sekali lagi ini bukan definisi tradisional sebagaimana kasus definisi Sruti di atas. Bahkan beberapa orang mengatakan selain Sruti semua adalah tergolong Smriti-sastram. Smriti sesungguhnya hanyalah merujuk kepada Dharma-sastram yang sering dikatakan sebagai “Kitab Hukum, Moral, dan Etika”. Bahkan dalam naskah Sarasamuscaya yang diwarisi di Indonesia pun dengan tegas dinyatakan, “sruti ngaranya sang hyang catur veda, sang hyang dharma-sastra smriti ngaranira, Catur Veda adalah yang disebut Sruti dan Dharma-sastra disebut Smriti” (sloka 44). Dalam pengertian tradisional, Dharma-sastra merupakan ajaran-ajaran yang harus senantiasa diingat oleh para sishya yang mempelajari Veda atau oleh masyarakat yang menerima Veda sebagai penuntun hidupnya. Dharma-sastra ini disusun oleh para Rishi seperti Manu, Yajnavalkya, Parasara, Gautama, dsb. sebagai tuntunan untuk menciptakan kondisi masyarakat secara umum dan mengembangkan mentalitas yang mendukung sishya untuk dapat mempelajari Veda dengan baik dan benar. Tentu saja Smriti-sastra ini dengan sendirinya akan diaplikasikan menurut situasi dan kondisi yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan masyarakat saat itu. Seperti program diet yang disusun dokter untuk penderita penyakit tertentu. Tanpa mengingat (kata smrita tidak menyatakan sebatas ingatan saja) dan membentuk mentalitas yang sesuai (mental-conditioning), maka tidak mungkin dapat memahami Veda. Karena itu ajaran-ajaran ini disebut Smriti-sastram. Smarta-sampradayam yang mengikuti ajaran Sankaracharya bahkan menggolongkan Smriti-sastram sebagai Upa-angam dari Veda (Sruti) karena pentingnya, oleh sebab itulah mereka disebut golongan Smartam, salah satu dari denominasi utama dalam Hindu.

Sad-angam merupakan enam (sad) jenis pengetahuan yang sangat vital dalam proses mempelajari Veda. Karena itu mereka adalah bagian yang tak boleh terpisahkan dari Veda sebagaimana organ-organ atau bagian tubuh yang penting (angam). Pertama ada Siksha, yang merupakan pengetahuan vital untuk melantunkan mantra-mantra Veda tanpa kesalahan. Karena kesalahan sekecil apapun dalam pengucapan mantra Veda akan menimbulkan arti dan efek yang berbeda. Ke dua adalah Vyakarana yang merupakan pengetahuan mengenai tata bahasa. Tanpa memahami tata bahasa maka sangat besar kemungkinan berbuat kesalahan dalam mengucapkan mantra. Paling tidak sishya akan bisa segera “mengoreksi” ingatannya terhadap kemungkinan kesalahan pengucapan dan susunan kata-kata yang bisa saja timbul karena lupa, sehingga kesalahan itu tidak sampai terucapkan. Sebagai contoh seseorang memuja Rudra dengan mengucapkan rudraaya namaha, tetapi bagi Vishnu yang benar adalah dengan menyebut vishnave namaha bukan vishnaaya namaha. Ke tiga adalah Chandam, yaitu pengetahuan mengenai bentuk perangkaian kata-kata dalam mantra yang disusun sebagai syair-syair dalam pola tertentu. Ke empat adalah Nirukta yang sering diartikan sebagai pengetahuan mengenai kosakata, semacam kamus. Ini merupakan pengetahuan untuk memahami kata-kata Veda yang mengandung berbagai dimensi makna. Seperti disebutkan sebelumnya, begitu banyak makna terkandung dalam satu kata dalam Veda. Di sinilah Nirukta berperan sangat vital untuk membantu sishya memahami maksud kata-kata itu. Ke lima adalah Jyotisha atau sering disebut sebagai astrologi Veda. Tetapi astrologi ini bukanlah ilmu untuk sekedar ramal-meramal nasib lewat bintang-bintang. Jyotisha adalah ilmu untuk “membaca bahasa alam”. Ini meliputi pengamatan dan perhitungan yang sangat teliti dan rumit untuk menciptakan situasi dan kondisi yang sesuai, serasi, dan selaras dengan alam. Contoh sederhana, adalah tidak mungkin orang menjemur pakaian kalau sedang mendung apalagi ada gerimis. Jadi Jyotisha membantu untuk menerapkan Veda pada waktu dan kondisi yang tepat sesuai situasi alam semesta, sehingga segala sesuatunya berjalan sempurna. Ke enam adalah Kalpa, yaitu pengetahuan ritualistik. Bagaimana melaksanakan upacara-upacara dalam Veda, yang tentu saja melibatkan mantra-mantra Veda, dengan proses dan metode yang benar. Ini merupakan pengetahuan agar apa yang terdapat dalam Veda dapat memberikan efeknya bagi masyarakat dan alam semesta. Para sishya di Veda-pathasala biasanya mempelajari salah satu Saakha dari Veda dan Keenam Angam ini sebagai kurikulum wajib yang dipelajari selama 12 tahun! Sripada Kanchi Paramacharyargal atau Mahaperiyava menjelaskan semua ini dengan baik sekali dalam buku The Vedas yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Media Hindu dengan judul Peta Jalan Veda.

Upa-angam terdiri dari berbagai Purana dan Itihasa. Upa-angam sering diartikan sebagai sesuatu yang sekedar tambahan atau pelengkap saja. Bermakna minor atau tidak penting. Namun kita harus memahami makna dua kata ini dengan sudut pandang Veda. Upa secara harfiah berarti dekat, yang memiliki nuansa makna karib atau akrab (intimate), seperti seorang istri dengan suami, begitu dekat, saling mendukung, dan merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Seperti nuansa makna kata Upa dari Upa-nishad, “berada dekat” (Sad-acharya). Kata dekat di sini tidak menunjukkan posisi jasmani, namun keakraban. Upanishad adalah pengetahuan atau ajaran yang diungkapkan oleh Sad-acharya kepada Sat-sishyam yang telah sangat dekat bahkan “menyatu” dengan Acharyanya. Menyatu di sini berarti berada dalam keserasian dan keselarasan sempurna dengan “pasangannya” sepenuhnya tak terpisahkan. Salah satu gelar Brahmana-Pandita adalah Upadhyaya. Ini juga berarti seorang yang telah belajar (adhyaya) sangat dekat (upa) dengan Sad-acharya-nya, sehingga mengetahui segala ajaran yang paling rahasia dari beliau. Kata angam memperkuat lagi makna ini, seperti dinyatakan sebelumnya berarti bagian tubuh atau organ yang sangat vital. Upa-angam bukan berarti anggota badan minor yang bisa diabaikan atau dibuang. Justru sebaliknya, ini adalah organ yang memegang peranan sangat vital. “nama va rg-vedo yajur-vedah sama-veda atharvanas caturtha itihasa-puranah pancamo vedanam vedah, Sesungguhnya, Rik, Yajus, Sama, dan Atharva, inilah nama-nama Veda yang empat jumlahnya. Purana beserta Itihasa adalah Veda yang ke lima. Inilah yang harus diketahui.” (Kauthumiya Chandogya Upanisad 7.1.4). Kemudian lebih lanjut dijelaskan makna dari Purana tidaklah pernah berubah seperti Veda-veda (Sruti-sastram). Tanpa keraguan, makna semua Veda berlindung di dalam Purana. Veda-veda ketakutan, karena jangan-jangan orang-orang yang tidak memiliki kepantasan akan membacanya dan menodai, mengubah-ubah maknanya. Dengan demikian arti penting dari Veda ditegaskan sekali lagi, sekokoh-kokohnya dalam Purana dan Itihasa. Apa yang tidak didapatkan dalam Veda (Sruti), akan ditemukan dalam Smriti. Apa yang tidak ditemukan dalam Smriti akan diperoleh dalam Purana. Mereka yang mengetahui, bahkan yang ahli dalam Veda dan Upanishad sekalipun, bukanlah sarjana terpelajar apabila mereka tidak mengetahui Purana (Skandapurana. Prabhasa-kanda. 5.3.121-124). Dalam bahasa Sri Mahaperiyava, Purana-Itihasa adalah kaca pembesar Veda. Dengan demikian tanpa memahami Purana dan Itihasa seseorang tidak akan bisa mengetahui Veda.

Selain Purana-Itihasa, terkadang Nyaya-sastram yang merupakan pengetahuan logika dialektika dan Mimamsa yaitu ilmu analitik mendalam mengenai suatu subjek (dalam hal ini adalah Veda) juga digolongkan termasuk Upa-angam. Yang digolongkan Nyaya-sastram adalah berbagai Nyaya-sutra (risalah logika) dan Sankhya-sutra (risalah metafisik), sedangkan Mimamsa yang disebut juga pengetahuan hermeunetika dibagi menjadi dua yaitu Purva-mimamsa dan Uttara-mimamsa. Purva-mimamsa berkaitan dengan analisis purva-kanda (bagian awal) atau karma-kanda (bagian yang membahas aktivitas ritualistik) dari Veda. Jaimini-sutra adalah salah satu Purva-mimamsa-sastram. Uttara-mimamsa berkaitan dengan analisis uttara-kanda (bagian akhir) atau jnana-kanda (bagian yang membahas kebenaran filosofis seperti Upanishad). Kitab Brahma-sutra atau Vedanta-sutra dari Vedavyasa adalah Uttara-mimamsa-sastram. Selanjutnya Purva-mimamsa hanya disebut Mimamsa saja dan Uttara-mimamsa dikenal sebagai Vedanta. Di lain pihak beberapa sampradayam menganggap bahwa Nyaya-sastram dan Mimamsa-sastram tidak perlu dimasukkan dalam golongan Upa-anga. Sri Pillai Lokacharya dalam kitab Sri Vachana-bhusana menyatakan bahwa makna dari purva-kanda sudah dijelaskan oleh Dharma-sastram dan uttara-kanda termasuk Vedanta diperjelas oleh Purana dan Itihasa. Sehingga secara bulat, yang diterima sebagai bagian dari Upa-angam oleh semua pihak adalah Purana dan Itihasa. Akan tetapi secara umum diterima bahwa 14 pengetahuan ini mulai dari Empat Sruti-sastram, Smriti-sastram, Enam Angam, Purana-Itihasa, Nyaya-sastram, dan Mimamsa-sastram adalah Caturdasa Vidya-sthanam, empat belas tempat bersemayamnya segala pengetahuan.

Jumat, 15 Mei 2009

Wujud-wujud Yang Kekal Selamanya (1)

Apabila dikatakan bahwa Tuhan turun ke dunia, apakah itu berarti Beliau mengambil wujud yang bersifat sementara? Ada yang meyakini bahwa bentuk Avatara tidaklah Brahman yang kekal dan akan kembali menjadi Brahman setelah menyelesaikan misi-Nya. Benarkah demikian?

Lihatlah Wujud-Nya tak terbatas dan meliputi segalanya!

Hendaknya dimengerti bahwa sesungguhnya Tuhan Yang Maha Esa Sri Krishna memiliki berbagai rupa atau wujud rohani. Rupa-rupa ini secara tattva tiada berbeda satu sama lain, namun mempertunjukkan berbagai kegiatan rohani yang berbeda dan menikmati pertukaran cintakasih yang beranekawarna bersama para hamba-Nya. Sebagaimana kita ketahui dari Sri Brahma-samhita,

advaitam acyutam anadim ananta-rupam
adyam purana-purusam nava-yauvanam ca
vedesu durlabham adurlabham atma-bhaktau
govindam adi-purusam tam aham bhajami
Hamba memuja Sri Govinda, Pribadi Tuhan yang awal, yang tidak dapat dicapai sepenuhnya oleh Veda, namun dapat dicapai oleh pengabdian cintakasih yang murni dari para jiva, yang adalah tunggal tiada duanya, yang tiada termusnahkan, yang tak memiliki permulaan, yang wujud-Nya tak terbatas, yang adalah pribadi terpurba yang paling awal, namun wujud-Nya senantiasa penuh kesegaran keindahan usia muda. (Brahma-samhita 33).

Di sini disebutkan bahwa Bhagavan yang penuh sempurna akan segala kemuliaan, Sri Govinda, memiliki wujud yang tak terbatas (ananta). Masing-masing rupa atau wujud ini adalah kekal dan tidak pernah mengalami kelapukan (acyutam). Itu berarti bahwa tidak pernah sekalipun rupa ini tidak ada, kemudian menjadi ada, lalu kembali menjadi tidak ada. Semua wujud Beliau yang tak terbatas ini ada untuk selamanya dan tiada permulaannya (anadi). Walau Beliau memiliki berbagai wujud yang tak terbatas namun secara tattva sesungguhnya tiada perbedaan antara satu wujud yang satu dengan wujud yang lain. Semua wujud ini adalah Bhagavan yang tunggal tiada duanya (advaita).

Ketika hati turut menyanyi, tidakkah Tuhan akan ada di sana menikmati lagu cintamu?

Berbagai rupa Bhagavan ini hadir di berbagai bagian dunia rohani Sri Vaikuntha yang juga tidak terbatas, menikmati berbagai rasa pertukaran cintakasih yang beranekawarna bersama para jiva sempurna, yaitu para hamba-Nya yang murni dan kekal pula. Berbagai rupa ini sekali lagi secara tattva tidaklah berbeda dengan Bhagavan Adipurusa Govinda atau Sri Krishna. Sehingga berbagai bentuk ini dikenal sebagai Vishnu-tattva atau sva-amsa, manifestasi yang tiada berbeda dengan Sri Bhagavan Sendiri.

Minggu, 10 Mei 2009

Ananta Kalyana-guna-nidhi

Sifat-sifat Pribadi Parabrahman adalah ananta, tidak terbatas. Namun para Acharya menggolongkan sebagian sifat kemuliaan Beliau sebagai yang menunjukkan kemahakuasaan-Nya (aisvaryatva) atau kemahaluhuran-Nya (paratva) dan kasih sayang (vatsalyatva) atau rasa manis-Nya (madhuryatva).

Sifat-sifat Tuhan yang diagungkan dalam Upanishad seperti satyatva (kebenaran kekal), jnanatva (penuh pengetahuan dan sadar sempurna), dan anandatva (penuh kebahagiaan) seperti yang kita dapatkan dalam Taittiriya, maupun sifat-sifat lain yang diuraikan dalam berbagai Upanishad, kemudian mengkristal menjadi enam kemuliaan dalam Pancaratra-sastra yang dikenal pula sebagai Bhagavat-sastra. Enam kemuliaan ini disebut Sad-guna-kalyana. Sifat-sifat itu pertama adalah jnanam (Pengetahuan), istilah ini menyatakan kemahatahuan atau pengetahuan sempurna mengenai segala sesuatu di dunia rohani maupun alam semesta duniawi, baik pada masa lalu, kini, dan akan datang. Kedua adalah aisvaryam (Kuasa), ini menunjukkan kesempurnaan Pribadi Tertinggi yang dengannya Beliau menjadi kausa absolut dan utama, sehingga dengan demikian Beliau menguasai seluruh manifestasi semesta. Kegiatan dari Pribadi Tertinggi didasarkan atas kemerdekaan absolut (svatantriya) dan keputusan sendiri yang tak pernah gagal (satya sankalpa). Ketiga adalah sakti (Energi). Tuhan merupakan kausa instrumental/ kausa efisien dan juga sekaligus kausa ingredensia/kausa material dari segala manifestasi kosmis. Sebagai contoh seperti seorang perajin gerabah yang membuat kendi tanah liat. Si perajin adalah orang yang berkeinginan membuat kendi tanah liat dan dia juga yang akan mengerjakan pembuatannya. Dia adalah merupakan kausa instrumental (nimitta). Sedangkan bahan-bahan yang akan digunakan dalam pembuatan kendi itu seperti tanah liat, air, dan alat-alat lainnya merupakan kausa ingredensia (upadana). Keduanya merupakan kausa atau penyebab terbentuknya sebuah kendi. Melalui berbagai sakti/ energi dan berbagai perubahannya (parinama) ini, Tuhan menjadi asal-muasal segalanya. Jadi dalam Vaishnava-siddhanta Tuhan tetap merupakan pembentuk maupun bahan dari segala ciptaan, melalui sakti yang bersumber dari Diri-Nya. Keempat adalah bala (Kekuatan) Ini menunjukkan kemahakuasaan Tuhan yang memiliki kekuatan untuk memproyeksikan, memelihara, dan menguraikan/meleburkan seluruh semesta kemudian memproyeksikannya kembali tanpa pernah mengalami kelelahan. Kelima adalah virya (Kuasa penciptaan). Ini mengindikasikan bahwa sekalipun Tuhan adalah kausa dari alam semesta, namun Beliau Sendiri tidaklah pernah berubah dan tidak terpengaruh oleh aktivitas proyeksi, sustentasi, dan transformasi kosmis. 

Vaishnava-siddhanta tidak sependapat dengan teori impersonalis-monistik yang menyatakan bahwa Tuhanlah yang berubah menjadi alam dan makhluk hidup. Kesalahtahuan kita atau khayalan kita (vivarta) membuat kita tidak menyadari kesatuan segalanya dengan Tuhan. Paham ini disebut vaivarta-vada. Namun dalam Vaishnava-siddhanta dinyatakan bahwa Tuhan tetap sebagai Tuhan, hanyalah energi-Nya (sakti) yang mengalami perubahan. Paham ini disebut tad-tac-cakti parinama-vada

Keenam adalah tejas (Keunggulan) Ini berarti bahwa Tuhan adalah penuh sempurna dalam Diri-Nya Sendiri dan tidak membutuhkan sesuatu apapun dari yang lain untuk menjaga eksistensi-Nya. Tetapi segala-galanya mempertahankan eksistensinya hanya dengan bersandar pada Tuhan. Beliau tidak memiliki saingan. Dengan demikian Parabrahman, Sri Bhagavan, disebut sebagai sadgunayapurnam atau Dia yang dihiasi enam kemuliaan secara sempurna. Inilah sifat-sifat dari Tuhan yang menekankan keagungan-Nya yang tiada bandingannya atau sifat paratva-Nya.

Sisi lain Tuhan adalah madhuryatva, Penuh Rasa Manis, yang menjadikan Tuhan memiliki berbagai sifat yang memungkinkan-Nya menjadi sausilyam (dapat berhubungan akrab dengan siapa saja) dan saulabhyam (mudah didekati, tidak berusaha menjauhkan Diri-Nya). Salah satu sifat paling utama dari Sri Bhagavan adalah Anugraha atau dikenal pula sebagai Daya, Anukampa, Kripa dan Karuna, yang dapat diartikan sebagai belas kasih. Dalam kitab Madhurya-kadambini, yang diuraikan oleh Srila Visvanatha Cakravarthipada, seorang Acharya yang agung dalam garis Gaudiya-vaishnava, dinyatakan bahwa Kripa-sakti (kekuatan belas kasih) mewujudkan dirinya dalam mata padma Tuhan dengan berbagai keindahannya. Melalui pandangan-Nya, Tuhan menjulurkan kripa-sakti ini kepada para prapanna, mereka yang menyerahkan diri kepada-Nya. Bagi para dasya-bhakta (mereka yang memuja Tuhan dalam rasa penghambaan) dia adalah kemurahan hati-Nya. Bagi para vatsalya-bhakta (mereka yang memuja Tuhan dalam kasih orangtua) dia adalah kecintaan atau ikatan kasih dalam keluarga. Bagi para sakhya-bhakta (mereka yang memuja-Nya dalam cinta persahabatan) dia adalah hangatnya keakraban. Sedangkan bagi para madhurya-bhakta (yang memuja Tuhan sebagai Kekasih) dia adalah kekuatan daya tarik yang meluluhkan hati. 

Dengan cara ini Kripa-sakti hadir dalam berbagai rupa sesuai dengan berbagai perasaan cintakasih para pemuja-Nya yang berbeda-beda. Kripa-sakti Tuhan ini memicu iccha-sakti (kekuatan kehendak bebas Tuhan) yang dapat mewujudkan segala-galanya tanpa batas, untuk menjamah roh-roh berdosa dan mewujudkan dalam diri mereka keberagaman perasaan tertarik (raga) terhadap Tuhan.

Rabu, 06 Mei 2009

Nirguna dan Saguna Brahman

Tuhan sebagai Pribadi Tertinggi, pemilik dari sifat-sifat mulia yang tiada terbatas merupakan salah satu konsep yang paling fundamental dalam siddhanta-siddhanta theistik dalam Veda (kesimpulan ajaran yang sangat menekankan keberadaan Tuhan sebagai pusat penyembahan, pemujaan, pelayanan, dan pengabdian), dengan demikian Tuhan Yang Maha Esa juga dikenal sebagai Ananta-kalyana-gunanidhi (samudera kemuliaan yang tiada terbatas). Secara khusus pengutamaan atas aspek Pribadi (Personal) Tuhan merupakan sumbangan keinsafan Vaishnava bagi kekayaan konsep Ketuhanan dalam Hindu. Apabila Upanishad menjelaskan Parabrahman sebagai nirgunam atau tanpa sifat, menurut Vaishnava-siddhanta bukanlah berarti bahwa Brahman sungguh-sungguh tidak memiliki sifat apapun, namun hal ini bermakna bahwa Beliau tidak memiliki rupa dan sifat duniawi yang penuh kekurangan seperti makhluk fana atau heya-guna. Nirguna juga bermakna bahwa Beliau sepenuhnya berada di atas pengaruh tiga sifat alam yaitu kebaikan (sattvam), nafsu (rajas), dan kebodohan (tamas), dengan demikian Beliau disebut pula sebagai Trigunatita. Apabila kata nirguna ini diterima sebagai keadaan tanpa sifat apapun, maka akan timbul ketidaksesuaian di antara deskripsi sastra-sastra suci Veda. Kontradiksi antar pernyataan Veda tidak boleh ada dalam penjelasan yang berasal dari perguruan-perguruan filsafat Vaishnava. 

Pribadi Parabrahman berada dalam sifat kebaikan murni yang mutlak, non relatif, yang diistilahkan sebagai keadaan visuddha-sattvam, yang tidak mungkin hadir dalam diri makhluk terikat manapun. Pribadi Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, Sri Bhagavan dalam terminologi Vaishnava, tidak pernah jatuh dari keadaan ini. Kitab suci menguraikan delapanbelas kekurangan atau sifat-sifat negatif yang tampak dalam diri roh terikat yaitu: jatuh dalam khayalan, rasa kantuk, tidak beradab, nafsu birahi, loba, kegilaan, irihati, kelicikan, meratap sedih, berusaha terlampau keras, kecenderungan menipu, amarah, ketakutan, berbuat kesalahan, ketidaksabaran, dan kebergantungan. Kitab suci menyatakan dengan jelas bahwa sifat-sifat Tuhan sepenuhnya bebas dari segala kelemahan dan kekurangan ini. Maka dalam vaishnava siddhanta, heya-pratyanikatva atau tiadanya sifat-sifat duniawi merupakan salah satu indikasi pengenal (lingam) dari Kebenaran Mutlak Tertinggi, yang adalah merupakan kalyana-gunakaratva, pemilik sifat-sifat mulia yang tak terbatas. Jadi dua hal ini, yaitu tiadanya kekurangan atau tiadanya sifat negatif dan penuh sempurnanya kemuliaan, merupakan dua indikasi (ubhaya-lingam) terpenting dari Parabrahman. Dalam Vedanta, Nirguna dan Saguna tidak menyatakan dua Vastu (substansi) yang berbeda. Parabrahman adalah nirguna dalam artian heya-pratyanikatva dan saguna dalam artian kalyana-gunakaratva. (akhila-heya-pratyanika kalyanaikatana-svetara vastu vilakshana ananta jnana anandaika svarupa)

Selasa, 05 Mei 2009

Tuhan Dalam Tiga Aspek (2)

Aspek ketiga diinsafi oleh para Bhagavata. Aspek inilah yang merupakan tujuan tertinggi bagi para Vaishnava, Dvaitavadi, dan Suddha-bhakta. Untuk mencapainya hanyalah ananya-suddha-bhakti, bhakti yang sepenuhnya murni yang menjadi satu-satunya sarana. Bhakti ini berbeda dengan pengertian bhakti yang dianut oleh seorang Advaitavadi. Bagi Advaitavadi bhakti, juga jnana, karma, dan dhyanayoga merupakan sarana mencapai moksa, menunggal dengan Brahman. Bhakti diperlukan pada tahap awal dengan berbagai kegiatan pelayanan, pemujaan, dan penyembahan kepada Saguna Brahman yang tampaknya masih berbeda dengan penyembah-Nya. Sampai penyembah mengembangkan jnana-nya, yaitu menyadari kesatuannya dengan Brahman, maka bhakti ini sudah tidak diperlukan lagi. Bagi Dvaitavadi, bhakti bukanlah sekedar sarana (sadhana) tetapi juga merupakan tujuan tertinggi (sadhya). 

Kebahagiaan yang dirasakan oleh pengikut paham monisme dan pantheisme setelah mencapai kesempurnaan dikenal dengan brahmananda, sukacita dalam persatuan dengan Brahman. Sedangkan kebahagiaan yang dirasakan oleh penganut Dvaita adalah seva-sukha-purnanandaatau premananda, kesukacitaan yang dirasakan dalam pelayanan cintakasihnya kepada Tuhan. Baik dalam tingkat masih terkondisi (baddha), kemudian melaksanakan bhakti-sadhana, sampai mencapai kesempurnaan (siddha), seorang praktisi yang menganut paham Dvaita tetap mempertahankan perbedaannya dengan Tuhan. Bagi Dvaitavadi Tuhan adalah sarvottama, Pribadi Tertinggi yang tiada duanya. Mereka ada yang menerima Abhedatva, tetapi ada pula yang sepenuhnya menolak Abhedatva. Untuk mencapai aspek Tuhan ini Bhedatva adalah sangat fundamental.

Para Bhagavata juga menginsafi dua aspek Tuhan yang lainnya. Mereka memahami adanya Brahman yang tak berwujud. Mereka juga menyadari memiliki sifat-sifat yang sama dengan Brahman, tetapi tetap saja mereka mempertahankan bahwa Brahman berbeda dengan dirinya. Mereka juga memahami bahwa Tuhan sungguh-sungguh meresapi segalanya ini, tetapi tetap saja segalanya ini berbeda dengan Tuhan. Bagi para Dvaitavadi Tuhan tetap adalah sarvottama, Pribadi Tertinggi yang menjadi pusat cintakasihnya dan tujuan pelayanannya. Perbedaan ini, antara Tuhan dengan hamba-Nya adalah kekal. Tanpa adanya perbedaan ini tidak ada cinta, tidak ada prema yang mereka tuju dan tidak ada premananda yang dirasakan. Bagi mereka Aspek Tuhan yang Berpribadi adalah mutlak. Pribadi itu adalah satu-satunya Pribadi Tertinggi yang berbeda dengan segala sesuatu yang ada ini. Pribadi ini kekal, selalu ada. Tidak pernah menjadi ada lalu berhenti ada. Inilah Ekanta, pengabdian yang terpusat pada Satu Pribadi Tunggal. Mungkin ini bisa disebut personal-monotheisme, tetapi Upanishadik atau Vedantik personal-monotheisme. Bagi para Dvaitavadi tidak ada konflik sama-sekali antara pernyataan-pernyataan prasthanatraya Veda-Upanishad (sruti), Vedanta-sutra (nyaya), Gita (smriti), dan Itihasa-Purana. Dengan demikian monotheisme Veda ini berbeda dengan monotheisme agama-agama Abrahamik yang mengabaikan sama sekali dua aspek Tuhan yang lainnya.

Senin, 04 Mei 2009

Tuhan Dalam Tiga Aspek (1)

Dalam perguruan-perguruan Vaishnava dipahami bahwa Upanishad dan Vedantasutra mengajarkan tiga jenis konsep ketuhanan secara lengkap dan sempurna. Zat nyata yang tiada duanya itu (advaya-tattva) diinsafi dalam tiga aspek yang berbeda. Satu aspek melampaui alam semesta, transenden, tidak terbatas, tidak berwujud, dan tidak terpengaruh segala sifat alam. Satu aspek meliputi segalanya, meresapi segenap alam dan segenap kehidupan. Tidak ada sesuatu apapun yang tidak mengandung Diri-Nya. Ini merupakan aspek yang bersifat immanen. Satu aspek lagi adalah yang mengatasi sifat transenden dan immanen-Nya. Suatu aspek yang memungkinkan Parabrahman menjaga kondisi transendensi dan immanensi-Nya, tanpa mengorbankan 
  1. keunggulan-Nya (paratva) dibanding segala sesuatu yang diresapi-Nya dalam kondisi immanen
  2. kemudahan dalam mencapai-Nya (vatsalyatva) serta manisnya keintiman dalam berhubungan dengan-Nya (madhuryatva) dalam kondisi transenden. 
Aspek pertama merupakan tujuan para Advaitavadi. Tentu saja tidak mungkin mencapai kondisi ini tanpa menjadi transendental juga. Maka praktisi (sadhaka) yang ingin mencapai kondisi ini harus meyakini bahwa dirinya dan Brahman adalah satu. Pemikiran yang bersifat monistik dan impersonal sangat dibutuhkan untuk mendapatkan keadaan tersebut. Tuhan Personal atau yang berpribadi tidaklah diperlukan bagi mereka karena mereka tidak menginginkan adanya hubungan dua arah, yang tentu saja bersifat dualistik. Adanya bentuk pribadi pasti akan menimbulkan perbedaan antara dua pribadi, lalu bagaimana bisa terjadi kesempurnaan yang menurut mereka adalah persatuan. Menurut pemahaman ini jivatma dalam keadaan terkondisi berada di bawah pengaruh Avidya, sehingga dia menganggap dirinya terpisah dengan Brahman. Atma tidak menyadari bahwa dirinya adalah Brahman. Ketika jivatma menginsafi bahwa dirinya adalah satu dengan Brahman, maka dicapailah pembebasan. Kondisi pembebasan atau moksa seperti ini diistilahkan sebagai Kaivalya-mukti atau Sayujya dengan Brahman yang bersifat impersonal. Keyakinan kevala-advaita-vadi ini menimbulkan konflik antara pernyataan-pernyataan dalam Catur Veda, Upanishad, dan Itihasa-Purana yang membahas kondisi Nirguna dan Saguna. Untuk menegakkan keutamaan Nirguna Brahman atau Nirvisesa Cinmatram ini maka Sankara harus menolak otoritas bagian-bagian Pustaka Veda yang menyatakan sifat-sifat Brahman Berpribadi (seperti Purana dan Itihasa), atau menyatakannya memiliki kedudukan lebih rendah.

Aspek kedua diinsafi oleh para mistikus yogi. Melalui pengalaman meditasi yang sempurna mereka dapat menginsafi kehadiran Brahman yang meresapi segala-galanya. Sekalipun mungkin mereka masih berada dalam tubuh jasmaninya, namun mereka yang telah mencapai kesempurnaan dalam aspek Tuhan ini, mampu mengalami Tuhan seketika itu juga. Mereka sepenuhnya menyadari bahwa sesungguhnya Tuhan berada di dalam dirinya dan juga di segala yang ada di seluruh alam semesta ini. Pemahaman akan Tuhan yang bersifat pantheistik merupakan pengalaman langsung bagi mereka. Tidak ada yang tidak diresapi oleh Brahman termasuk diri mereka sendiri. Keinsafan ini sangat mirip dengan Kaivalya. Bedanya tentu hanya dapat dirasakan oleh mereka yang mengalaminya. Tetapi secara teori dapat dikatakan dalam kesempurnaan Advaitik dialami bahwa sang diri sesungguhnya adalah Brahman, satu dengan Brahman. Sedangkan dalam keinsafan para yogi meditatif ini, kesempurnaan merupakan ketidakterpisahan diri dengan Brahman. Singkatnya para Advaitin sepenuhnya menerima Abhedatva dan menolak Bhedatva (perbedaan antara atma dengan Brahman), sedangkan para siddha-yogi menerima Bhedatva tetapi menganggap Abhedatva lebih fundamental, lebih bermakna, dan lebih mendominasi.

Plurk

Click untuk perbaiki dunia

Stop Smoking