Tampilkan postingan dengan label archana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label archana. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Agustus 2010

PEMUJAAN NARASIMHA DALAM SAKTI TANTRA

Sri Maha Pratyangira Devi (atau Pratyankira) adalah seorang Devi yang mahasakti, yang dikatakan melampaui kemurkaan Sarabhesvara, suatu ugra-avatar Siva. Beliau juga dikenal sebagai Nrisinghika (Narasimhi), Devi yang berwujud setengah manusia setengah singa. Disebutkan apabila Nrisinghika menggoyang-goyangkan rahang singanya, maka bintang-bintang akan berantakan. Beliau dikandung sebagai kekuatan dalam bijaksara “Ksham”.


Sri Pratyankira Devi dihubungkan dengan Sri Cakra. Beliau merupakan kekuatan tersakti dalam menghancurkan pengaruh yang ditimbulkan oleh ilmu sihir. Beliau merupakan pelindung para penyembah-Nya yang menekuni sadhana Sri Cakra dalam sakti-tantra, agar mereka selalu berada di jalan yang benar. Pratyankira Devi melaksanakan peran yang sama dalam sakti-tantra seperti Sri Narasimha bagi para Vaishnava.

Bentuk perwujudan Beliau sangat menyeramkan, berkulit gelap, berwajah seekor singa yang murka, dengan mata merah penuh amarah dan mengendarai seekor singa juga. Terkadang Beliau juga tampak telanjang, dengan kalungan kepala-kepala manusia, rambutnya berdiri. Tangan padma-Nya memegang trisula, seekor naga yang dibentuk jerat, damaru, dan mangkuk tengkorak. Beliau dihubungkan juga dengan Bhairava melalui wujud-Nya yang dikenal sebagai Atharvana Bhadrakali.

Berbeda dengan Bhagavata, kisah lila Narasimha lebih mengerikan dalam Tantra. Setelah membunuh Hiranyakashipu dikatakan bahwa walaupun sudah banyak rishi dan deva yang berdoa, Tuhan Narasimhadeva belum juga dapat ditenangkan dari kemarahan-Nya. Kemurkaan Narasimhadeva mengambil bentuk banyak Narasimha yang kemudian meminum setiap tetes darah Hiranyakasipu. Akhirnya para deva dan rishi juga meminta Siva untuk mengambil wujud murka untuk mengejutkan Narasimha. Siva kemudian mengambil rupa Sarabhesvara yang sangat ajaib berwujud makhluk mengerikan seperti burung yang dapat memakan gajah dan singa. Kedua sayapnya adalah Devi Uma dan Mahalaksmi. Sebagian kemurkaan Narasimhadeva dapat ditaklukkan oleh Sarabhesvara, akan tetapi tidak berlangsung lama karena ternyata Sri Narasimhadeva menjadi lebih murka lagi. Wujud yang sangat mengerikan bernama Astamukha Gandaberundha Narasimha tiba-tiba muncul. Rupa ini berwajah delapan yaitu Garudamukha (wajah garuda, menganugerahkan kesehatan dan melawan racun), Varahamukha (wajah babi hutan, memusnahkan kekuatan ilmu hitam), Vanaramukha-Hanuman (wajah kera, melindungi dari kekuatan jahat dan mengembalikan kehilangan), Balukamukha (wajah beruang, melindungi dari kegelapan dan menganugerahkan kemakmuran), Hayagriva (wajah kuda, memberikan kebijaksanaan dan energi kehidupan), Vyagramukha (wajah harimau, melindungi dari segala jenis penyakit, roh jahat, dan setan), Gandaberundha (dua wajah burung seperti feniks, memberikan kedamaian pikiran) dan wajah Sri Narasimhadeva Sendiri (menganugerahkan moksa dan bhakti). Di depan wujud yang sangat murka ini rupa Sarabhesvara musnah dan Devi Uma pergi ketakutan. Hanya Mahalaksmi yang secara rahasia mendekati Astamukha-murti, kemudian Beliau menyerap kemarahan Sri Narasimhadeva sehingga Beliau mengambil wujud mengerikan sebagai Sri Maha Pratyankira Devi. Wujud damai Beliau kemudian duduk di pangkuan wujud damai Narasimha di atas gulungan tubuh Anantadeva untuk bisa dipuja oleh Prahlada dan para deva lain. Tuhan Sri Narasimhadeva dalam wujud ini dipuja di Yadagirigutta-ksetra.

Sarabheshvara

Gandaberundha-sadhana adalah salah satu mantra-sadhana yang paling kuat dalam Vaishnava-tantra yang sangat rahasia. Saat ini hanya beberapa orang saja yang mewarisi parampara dari sadhana ini, mereka dapat membuat Gandaberundha-kavacha yang mampu mengalahkan semua penyakit jasmani maupun penyakit karena sihir. Saat ini ada yang menyediakan rekaman mantra-mantra khusus ini, dilantunkan oleh Sudarsana Narasimha Murty, seorang Astamukha-sadhaka dari garis Sri Vaishnava. Apabila didengarkan pada malam hari dikatakan dapat menghilangkan mimpi buruk dan menjauhkan hantu-hantu. Tentu saja untuk seluruh mantra-siddhi hanya bisa dicapai dengan melaksanakan sadhana khususnya.

Sri Maha Pratyankira Devi kemudian dipuja oleh mereka yang mendalami sadhana Nava-Matrika (Sembilan Ibu) dalam pemujaan rahasia Sri Vidya. Beliau dipuja untuk mengusir roh-roh jahat ganas dan kekuatan ilmu hitam, tetapi kadang-kadang kekuatan mantra-Nya juga disalah mengerti dan disalah gunakan. Beberapa orang bahkan menggunakan kekuatan siddhi Beliau untuk Marana-puja (membunuh musuh). Orang-orang seperti itu juga menyalahgunakan pemujaan Narasimha secara Vamachara untuk melakukan kejahatan. Akan tetapi sesungguhnya Kedua Pasangan Rohani ini dapat memberikan pembebasan dari samsara dan anugerah yang paling mulia yaitu pengabdian suci kepada Beliau. Lupakan segala tujuan-tujuan duniawi apalagi tujuan jahat ketika memuja-Nya, karena kemusnahan yang mengerikan justru menjadi hasilnya.

Sengedongma - Simhamukhadakini di Tibet

Dalam Tantra Tibet kita juga bisa menemukan pemujaan Sri Nrisinghikadevi sebagai Singhamukha-dakini (Senge Dongma). Beliau menghalangi orang-orang yang tidak pantas memasuki rahasia Tantra. Beliau juga salah satu yidam (istadeva) yang digunakan dalam sadhana Tantra Buddhisme Tibet. Padmasambhava, yogi yang mengalahkan semua deva dan roh jahat di Tibet dan yang berhasil membawa agama Buddha masuk dan berkembang di Tibet untuk pertama kalinya, dikatakan mendapatkan kekuatan dari sadhana Singhamukha-dakini. Dia bahkan mampu mengubah wujudnya seperti Sri Narasimhadeva dan menaklukkan semua deva, naga, dan bhuta yang menghalangi penyebaran agama Buddha di Tibet, Nepal, dan Bhutan.

Guru Padmasambhava sebagai Simhamukha. Wujud damainya tampak di atas sebagai seorang bhiksu bertopi

Sabtu, 18 Juli 2009

Tempat Sumber Air Yang Mudah Dicapai

Teologi Pancharatrika-agama yang menjadi dasar Vaishnava-tantra mengungkapkan Tuhan Yang Maha Esa dalam Lima Aspek Utama-Nya yaitu Para, Vyuha, Vaibhava, Antaryami, dan Archa. Para adalah aspek yang tiada terkatakan, tiada bandingannya, prinsip tertinggi yang tak terungkapkan. Vyuha merupakan aspek emenasi dari Para, yang termanifestasi sebagai ekspresi dari aspek-aspek tertentu dalam ketidakterbatasan Para. Vaibhava merupakan Inkarnasi, yang menampilkan berbagai karakteristik tertentu dari Tuhan dalam wujud tertentu pula. Suatu ketika, atas kehendak-Nya Sendiri, wujud atau bentuk itu dapat memanifestasikan Diri di alam fisik yang dapat dipersepsi oleh makhluk-makhluk terikat. Inilah yang secara umum disebut sebagai Avatara Tuhan. Antaryami adalah aspek yang meresapi segala-galanya dan berada di mana-mana. Manifestasi ini bersemayam sebagai Parama-atma yang senantiasa mendampingi jiva-atma dalam badan apapun mereka terlahirkan di dunia ini. Parama-atma dan jiva-atma inilah yang disebut “dua ekor burung hinggap di satu pohon (samane vriksha…)” dalam sloka Mandukya dan Svetashwatara-upanisad yang terkenal itu. Sedangkan Archa merupakan Inkarnasi dalam bentuk Ikon atau Citra Suci, yaitu ketika yang tak terbatas mewujudkan Diri-Nya dalam fenomena alam yang terbatas atas permohonan hamba yang memuja-Nya dalam kerinduan cinta mereka.

Tuhan yang bersemayam di "teratai hati". Dikenal pula sebagai Antaryami, Yang Bertahta di Lubuk Hati Terdalam semua makhluk.

Salah satu literatur Sri-vaishnava yang terkenal yaitu Sri Vachana-bhusanam (Perhiasan Indah Ajaran Suci), ditulis oleh Sri Pillai-Lokacharyar menyebutkan, “bhu-gata-jalam pole antaryamitvam; avarana-jalam pole paratvam; parkadal pole vyuham; perukkaru pole vibhavangal; atile tenkinamatukkal pole arcchaavataram. Tuhan yang bersemayam di hati (Antaryami) bagaikan air yang terkandung jauh di dalam tanah; Empat Emenasi (Vyuha) bagaikan air di samudera susu (yang sulit ditemukan); Para Inkarnasi yang turun ke dunia (Vaibhava-avatara), bagaikan air sungai, yang terkadang banjir, namun lebih sering mengering; namun Inkarnasi Citra ini (Archa-avatara) adalah telaga-telaga penampung air, yang setiap saat mudah kita temukan dan ambil airnya” (SVB: 39)

Citra Suci Sang Guru Agung, Sri Pillai Lokacharya

Inilah yang kita dapatkan dalam sebuah Pura Hindu. Tuhan Sendiri dalam Inkarnasi Citra-Nya! Kemudian di sana juga diadakan berbagai upacara yang termasuk dalam rangkaian Archanam sebagaimana disebutkan dalam posting terdahulu. Tuhan yang dipuja di Pura adalah “Sesosok Pribadi” yang khusus dan Beliau juga dipuja dengan cara-cara yang istimewa. Vyaktaih vyaktistham archayet, demikian sabda Agama. Namun pada saat yang sama si pemuja melihat dirinya tidaklah berbeda dengan Pujaannya. Tuhan adalah salah satu dari kita. Dia bagian dari kita. Maka si pemuja mempersembahkan segala hal yang dilakukannya sehari-hari bagi dirinya kepada Tuhan Pujaannya, tetapi dalam skala yang lebih istimewa. Istilah Tamil untuk Pura adalah Kovil (yang dalam bahasa Indonesia lalu berubah menjadi Kuil). Kovil artinya adalah tempat bersemayamnya seorang Raja, Ko. Tuhan yang distanakan di Pura tidaklah dianggap sebagai suatu Pribadi Tertinggi yang sulit didekati, dijauhkan dan tidak terjangkau. Namun beliau adalah pimpinan bagi umat manusia, yang terbaik di antara kita semua. Sebagai Raja, Beliau lebih mulia, lebih luhur, lebih segala-galanya dari kita. Namun beliau tetaplah salah satu dari kita, yang selalu memperhatikan kesejahteraan kita, sama-sama menanggung derita bersama kita, sekaligus juga menguasai dan mengatur setiap kegiatan kita. Jadi Tuhan di Pura ini diperlakukan sebagai seorang Raja.

Iring-iringan Archa Sri Ranganatha (Nammperumal) pada saat Vaikuntha Ekadasi di Srirangam, mengenakan Vajra-kavacha, busana permata dan intan-berlian. Beliau dibawa ke Aarayirakaal atau Aula Seribu Pilar, seperti sebuah ruang balairung kerajaan. Di atas tahta-Nya Dia disebut Rangaraja, Raja segala raja.

Kamis, 16 Juli 2009

Pura adalah Tempat Tuhan Menjadi Bagian dari Masyarakat Manusia

Orang-orang pergi ke Pura bukanlah untuk melakukan perenungan, kontemplasi, atau untuk meditasi. Ini dapat dilakukan dengan lebih nyaman di rumah masing-masing. Kita juga pergi ke Pura bukan untuk sekedar bersenang-senang, kumpul-kumpul dengan sesama umat, melakukan berbagai hal dalam kebersamaan. Bukan! Memang ini juga salah satu fungsi atau fasilitas yang diberikan Pura bagi kita. Tapi bukan untuk itu tujuan utama kita.

Umat Hindu di Bali meniti anak tangga masuk Pura Besakih

Di dalam Pura ini kita datang dan menemui Tuhan Sendiri dalam “keserupaan-Nya” dengan kita. Di sini kita akan menemukan kedamaian dan kenyamanan, penghiburan dan pelipur lara. Di sini duka derita kita diringankan dan disembuhkan. Namun yang terpenting di sinilah kerinduan hati kita pada Tuhan memperoleh pemenuhannya. Semuanya dipenuhi oleh Kekuatan dan Kehadiran Illahi yang begitu luhur, jauh lebih mulia dari kita, tiada taranya, namun dalam saat yang sama juga begitu dekat dan mudah ditemui. Dia ada di sini dalam suatu Rupa yang “seperti” kita, seperti salah satu dari kita, menjadi bagian dari kehidupan kita. Sebagaimana kita menjawab bila dipanggil, maka di sini Tuhan datang secara Pribadi ketika kita menyerukan Nama-Nya.

Umat Hindu di Bengaluru berdesak-desakan masuk ke dalam Pura

Ritual yang sangat efektif untuk menciptakan ikatan antara penyembah dengan Yang Disembah dan selalu ada bagi mereka yang mengunjungi Pura adalah Archana. Walaupun kini kata Archana ini sudah menjadi istilah umum dalam agama Hindu untuk menyebut persembahyangan, namun secara khusus Archana berarti melaksanakan segala hal yang berkaitan dengan Archa, Citra Suci Tuhan. Dalam Archa ini Tuhan menghadirkan Diri-Nya yang begitu mulia sebagai salah satu dari kita, yang mengijinkan kita berhubungan sepenuhnya dengan Beliau, baik melalui keheningan tumpahan perasaan - isi hati kita, kata-kata, dan karya fisik.

Yang Mahasuci Srimad Allakhiya Singhar, pemegang tahta suci Sri Ahobhila Matham memimpin pelaksanaan Puja-Archana bagi Tuhan Sri Sri Laksmi Narasimhadeva atau Sri Maalolan

Kita melakukan Archana di Pura sebagaimana kita memenuhi berbagai kebutuhan kita sendiri atau merawat anak kita sendiri. Archana ini memperlakukan Tuhan sebagaimana kita memperlakukan salah seorang dari diri kita. Kita membangunkan-Nya dari tidur lelap-Nya di pagi hari, memandikan-Nya, menghiasi-Nya dengan berbagai busana, menyambut-Nya setelah berhias seperti seorang istri yang mempersiapkan suaminya pergi bekerja, menghaturkan makanan, kemudian mempersilakan-Nya beristirahat, menikmati sedikit kudapan dan bersantai, sampai mengantar-Nya tidur pada malam hari. Ini dilakukan baik oleh mereka yang menjadi pendeta di Pura itu maupun dengan partisipasi umat yang mengunjungi Pura dan terlibat dalam berbagai tahapan Archana ini. Melalui Archana atau pemujaan inilah, suatu hubungan yang begitu karib terjalin antara kita dengan Tuhan. Sebuah ikatan yang semakin lama-semakin kuat, semakin hidup, dan semakin berhasil. Apabila kita sungguh ingin membangun relasi yang manis ini, maka pemujaan harus dilakukan terus-menerus, tiada putus-putusnya Tuhan dimohon kehadiran rohani-Nya dalam Archa. Archa ini atau Citra Suci Tuhan bahkan dalam tradisi dan teologi Vaishnava, yang juga didukung oleh pernyataan-pernyataan Veda dan tuntunan kitab-kitab Agamika, adalah bukan sekedar sarana konsentrasi atau objek untuk memusatkan pikiran belaka. Archa adalah sungguh-sungguh Tuhan Sendiri, Inkarnasi-Nya – Archa-avatara. Beliau sungguh-sungguh hadir dalam Rupa ini oleh belas kasih-Nya yang tiada bertepi, demi menerima pemujaan dan juga secara langsung memberikan Karunia-Nya kepada umat. Dia bukanlah patung simbol keagamaan belaka, yang mungkin penting secara relijius, tetapi tetap buta, bisu, dan tuli. Tidak! Bagi Vaishnava ini adalah Tuhan Sendiri dalam kehadiran rohani-Nya yang nyata dan manifestasi-Nya yang paling murah hati.

Para pendeta mengolesi Tubuh Rohani (Thirumeni/Divyamurti) Archa Tuhan Srinivasa Govinda (Narayana) dengan lulur rempah-rempah sebelum memandikan-Nya

Kehadiran-Nya di sini senantiasa dijaga oleh Archana, yang sekali lagi bukanlah sekedar doa, kontemplasi, dan meditasi saja, tetapi terdiri dari serangkaian ritual yang membuka kesempatan seluas-luasnya bagi umat manusia untuk terlibat di dalamnya secara fisik. Inilah mengapa Pura juga disebut Sannidhi. Itu berarti bahwa sannidhya, kehadiran Tuhan, dapat dialami, dirasakan, dan bahkan “dinikmati” sebesar-besarnya oleh semua kalangan masyarakat.

Plurk

Click untuk perbaiki dunia

Stop Smoking