Tampilkan postingan dengan label puja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puja. Tampilkan semua postingan

Minggu, 15 Agustus 2010

PEMUJAAN NARASIMHA DALAM SAKTI TANTRA

Sri Maha Pratyangira Devi (atau Pratyankira) adalah seorang Devi yang mahasakti, yang dikatakan melampaui kemurkaan Sarabhesvara, suatu ugra-avatar Siva. Beliau juga dikenal sebagai Nrisinghika (Narasimhi), Devi yang berwujud setengah manusia setengah singa. Disebutkan apabila Nrisinghika menggoyang-goyangkan rahang singanya, maka bintang-bintang akan berantakan. Beliau dikandung sebagai kekuatan dalam bijaksara “Ksham”.


Sri Pratyankira Devi dihubungkan dengan Sri Cakra. Beliau merupakan kekuatan tersakti dalam menghancurkan pengaruh yang ditimbulkan oleh ilmu sihir. Beliau merupakan pelindung para penyembah-Nya yang menekuni sadhana Sri Cakra dalam sakti-tantra, agar mereka selalu berada di jalan yang benar. Pratyankira Devi melaksanakan peran yang sama dalam sakti-tantra seperti Sri Narasimha bagi para Vaishnava.

Bentuk perwujudan Beliau sangat menyeramkan, berkulit gelap, berwajah seekor singa yang murka, dengan mata merah penuh amarah dan mengendarai seekor singa juga. Terkadang Beliau juga tampak telanjang, dengan kalungan kepala-kepala manusia, rambutnya berdiri. Tangan padma-Nya memegang trisula, seekor naga yang dibentuk jerat, damaru, dan mangkuk tengkorak. Beliau dihubungkan juga dengan Bhairava melalui wujud-Nya yang dikenal sebagai Atharvana Bhadrakali.

Berbeda dengan Bhagavata, kisah lila Narasimha lebih mengerikan dalam Tantra. Setelah membunuh Hiranyakashipu dikatakan bahwa walaupun sudah banyak rishi dan deva yang berdoa, Tuhan Narasimhadeva belum juga dapat ditenangkan dari kemarahan-Nya. Kemurkaan Narasimhadeva mengambil bentuk banyak Narasimha yang kemudian meminum setiap tetes darah Hiranyakasipu. Akhirnya para deva dan rishi juga meminta Siva untuk mengambil wujud murka untuk mengejutkan Narasimha. Siva kemudian mengambil rupa Sarabhesvara yang sangat ajaib berwujud makhluk mengerikan seperti burung yang dapat memakan gajah dan singa. Kedua sayapnya adalah Devi Uma dan Mahalaksmi. Sebagian kemurkaan Narasimhadeva dapat ditaklukkan oleh Sarabhesvara, akan tetapi tidak berlangsung lama karena ternyata Sri Narasimhadeva menjadi lebih murka lagi. Wujud yang sangat mengerikan bernama Astamukha Gandaberundha Narasimha tiba-tiba muncul. Rupa ini berwajah delapan yaitu Garudamukha (wajah garuda, menganugerahkan kesehatan dan melawan racun), Varahamukha (wajah babi hutan, memusnahkan kekuatan ilmu hitam), Vanaramukha-Hanuman (wajah kera, melindungi dari kekuatan jahat dan mengembalikan kehilangan), Balukamukha (wajah beruang, melindungi dari kegelapan dan menganugerahkan kemakmuran), Hayagriva (wajah kuda, memberikan kebijaksanaan dan energi kehidupan), Vyagramukha (wajah harimau, melindungi dari segala jenis penyakit, roh jahat, dan setan), Gandaberundha (dua wajah burung seperti feniks, memberikan kedamaian pikiran) dan wajah Sri Narasimhadeva Sendiri (menganugerahkan moksa dan bhakti). Di depan wujud yang sangat murka ini rupa Sarabhesvara musnah dan Devi Uma pergi ketakutan. Hanya Mahalaksmi yang secara rahasia mendekati Astamukha-murti, kemudian Beliau menyerap kemarahan Sri Narasimhadeva sehingga Beliau mengambil wujud mengerikan sebagai Sri Maha Pratyankira Devi. Wujud damai Beliau kemudian duduk di pangkuan wujud damai Narasimha di atas gulungan tubuh Anantadeva untuk bisa dipuja oleh Prahlada dan para deva lain. Tuhan Sri Narasimhadeva dalam wujud ini dipuja di Yadagirigutta-ksetra.

Sarabheshvara

Gandaberundha-sadhana adalah salah satu mantra-sadhana yang paling kuat dalam Vaishnava-tantra yang sangat rahasia. Saat ini hanya beberapa orang saja yang mewarisi parampara dari sadhana ini, mereka dapat membuat Gandaberundha-kavacha yang mampu mengalahkan semua penyakit jasmani maupun penyakit karena sihir. Saat ini ada yang menyediakan rekaman mantra-mantra khusus ini, dilantunkan oleh Sudarsana Narasimha Murty, seorang Astamukha-sadhaka dari garis Sri Vaishnava. Apabila didengarkan pada malam hari dikatakan dapat menghilangkan mimpi buruk dan menjauhkan hantu-hantu. Tentu saja untuk seluruh mantra-siddhi hanya bisa dicapai dengan melaksanakan sadhana khususnya.

Sri Maha Pratyankira Devi kemudian dipuja oleh mereka yang mendalami sadhana Nava-Matrika (Sembilan Ibu) dalam pemujaan rahasia Sri Vidya. Beliau dipuja untuk mengusir roh-roh jahat ganas dan kekuatan ilmu hitam, tetapi kadang-kadang kekuatan mantra-Nya juga disalah mengerti dan disalah gunakan. Beberapa orang bahkan menggunakan kekuatan siddhi Beliau untuk Marana-puja (membunuh musuh). Orang-orang seperti itu juga menyalahgunakan pemujaan Narasimha secara Vamachara untuk melakukan kejahatan. Akan tetapi sesungguhnya Kedua Pasangan Rohani ini dapat memberikan pembebasan dari samsara dan anugerah yang paling mulia yaitu pengabdian suci kepada Beliau. Lupakan segala tujuan-tujuan duniawi apalagi tujuan jahat ketika memuja-Nya, karena kemusnahan yang mengerikan justru menjadi hasilnya.

Sengedongma - Simhamukhadakini di Tibet

Dalam Tantra Tibet kita juga bisa menemukan pemujaan Sri Nrisinghikadevi sebagai Singhamukha-dakini (Senge Dongma). Beliau menghalangi orang-orang yang tidak pantas memasuki rahasia Tantra. Beliau juga salah satu yidam (istadeva) yang digunakan dalam sadhana Tantra Buddhisme Tibet. Padmasambhava, yogi yang mengalahkan semua deva dan roh jahat di Tibet dan yang berhasil membawa agama Buddha masuk dan berkembang di Tibet untuk pertama kalinya, dikatakan mendapatkan kekuatan dari sadhana Singhamukha-dakini. Dia bahkan mampu mengubah wujudnya seperti Sri Narasimhadeva dan menaklukkan semua deva, naga, dan bhuta yang menghalangi penyebaran agama Buddha di Tibet, Nepal, dan Bhutan.

Guru Padmasambhava sebagai Simhamukha. Wujud damainya tampak di atas sebagai seorang bhiksu bertopi

Senin, 04 Januari 2010

KEBENARAN MUTLAK DALAM SEBATANG KAYU

Seringkali orang menganggap bahwa penempatan sesaji di bawah pohon atau persembahyangan yang dilakukan di bawah pohon adalah suatu bentuk keyakinan primitif yang dilakukan oleh orang-orang purba yang tidak beradab. Orang-orang sering berpikir bahwa pemujaan yang dilakukan di satu gedung mewah, dengan bangunan yang permanen, adalah lebih baik atau lebih tinggi nilainya dari pemujaan yang dilakukan di alam terbuka, termasuk di bawah pohon. Ada juga yang berpendapat bahwa orang-orang yang bersembahyang di bawah pohon tidak mengenal Tuhan yang sejati, melainkan memuja roh-roh yang bersemayam di pohon-pohon itu. Ini adalah pendapat yang sama sekali salah. Dalam Veda-dharma kita tidak saja mengenal pemujaan yang bertempat di bawah pohon, tetapi juga ada pemujaan terhadap beberapa pohon tertentu yang disucikan. Pippala (beringin), Bael, dan Tulasi adalah sebagian dari banyak pohon yang dihormati oleh para pengikut Veda.


Pohon tidaklah lebih dari tempat-tempat atau elemen-elemen alam lainnya. Penghormatan Veda terhadap pohon adalah dengan memperhatikan beberapa hal. Pohon adalah suatu makhluk hidup. Itu artinya dia memiliki jiva atau atma. Pohon adalah suatu pribadi, suatu individu. Pohon juga merupakan tempat tinggal bagi begitu banyak kehidupan. Dia memiliki peran yang penting dalam memberikan kehidupan bagi makhluk lainnya dan juga menyediakan perlindungan. Dalam satu pohon, apalagi semakin dia besar, akan ada banyak sekali makhluk yang tergantung padanya. Kita juga meyakini, bentuk-bentuk kehidupan tertentu yang tidak dapat dilihat oleh mata jasmani bisa saja menganggap pohon sebagai rumahnya. Ada begitu banyak jiva yang berdiam di sana. Pohon juga adalah simbolisasi. Dia bisa berperan sebagai emblem yang mengingatkan kita kepada Sang Sumber Segala Sesuatu. Melihat pohon tertentu dapat membuat kita mengingat Tuhan, Penguasa Sejati seluruh alam semesta.

Pertama kita melihat pohon sebagai salah satu bagian dari keanekaragaman isi alam semesta. Dia adalah salah satu elemen alam. Tidak ada satu tempat pun di seluruh manifestasi kosmis ini yang tidak diresapi oleh kehadiran Tuhan. Tuhan sebagai Paramatma bahkan berada di atom yang terkecil sekalipun. Jadi bukanlah hal yang salah bila beberapa orang, atau beberapa kelompok manusia, yang memiliki rasa kedekatan dengan alam justru menemukan Tuhan di pepohonan. Mereka menjadikan pohon yang terpilih sebagai tempat mereka melakukan pemujaan, menyatakan rasa syukurnya, atau ungkapan perasaan lainnya kepada Tuhan di bawah pohon. Dalam pemahaman seperti ini, apa bedanya sebatang pohon dengan bangunan dari beton? Tentu tidak ada. Ini hanyalah suatu tempat kita bisa mencurahkan perasaan kita. Banyak orang masih pacaran di bawah pohon, padahal sudah ada cafe, resto mewah, dsb. Jadi bukan masalah bila beberapa orang menjalin kasih dengan Tuhan Yang Maha Esa di bawah pohon, toh seluruh tempat di alam semesta ini adalah milik-Nya. Kita juga harus ingat betapa besar manfaat pohon bagi kita. Regulasi air, udara bersih, pangan, sandang, dan papan kita, semua dikerjakan oleh tumbuh-tumbuhan. Pohon-pohon ini adalah karunia Tuhan yang begitu besar kepada kita semua. Bukankah dengan demikian naungan sebuah pohon boleh kita anggap sebagai salah satu tempat terbaik untuk memuliakan Tuhan?

Pemahaman kedua adalah kita melihat pohon sebagai tempat berdiamnya begitu banyak makhluk hidup. Bila kita ke Bali, Thailand, Kamboja, Myanmar, India, dan tempat-tempat lain yang masih berpegang pada tradisi Dharma, kita akan melihat begitu banyak altar-altar kecil di bawah pohon-pohon besar. Orang awam hanya bilang pohon itu angker, ada penunggunya, ada hantunya, dsb. Tetapi pengertian sebenarnya adalah ada bentuk-bentuk kehidupan yang berdiam di pohon itu. Manusia adalah trespasser (pelanggar). Kita sering melakukan pelanggaran dalam segala hal, sengaja maupun tak sengaja. Dengan tingginya individualisme sekarang ini, bahkan bila kita melangkah di pekarangan orang pun bisa ditodong senapan oleh yang punya. Ini lazim di negara-negara Barat, tapi mungkin di Indonesia belum setajam itu. Tetapi untuk hidup kita banyak melanggar wilayah tempat tinggal berbagai makhluk hidup lainnya. Pada jaman dahulu apabila orang membuat desa, biasanya dengan merabas hutan. Satu pohon beringin besar disisakan atau sengaja ditanam di tengah-tengah desa. Desa-desa di India dan setahu saya di Bali juga memiliki pola seperti ini. Lalu pohon beringin ini menjadi pusat desa, selain Pura tentunya. Di sana penduduk mendirikan altar kecil dan memberikan persembahan makanan, dan lain-lain. Mengapa seperti itu? Kita yakin bahwa begitu banyak makhluk tinggal di pohon. Ketika kita menebang pohon untuk keperluan kita, begitu banyak yang kehilangan tempat tinggal. Kita harus menebang secukupnya saja, dengan betul-betul memperhatikan efeknya pada lingkungan, baik yang kasat mata maupun yang tidak. Jadi kita berusaha selalu ingat, bahwa demi fasilitas yang kita nikmati, banyak makhluk yang kesenangannya kita ganggu dan wilayahnya kita langgar. Para tetua pendiri desa, sebagai contoh, lalu mempersilakan semua makhluk itu untuk berdiam di pohon yang berada di pusat desa. Manusia mengajaknya sebagai bagian tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat. Setiap hari kita menyatakan rasa terimakasih kita dengan memberikan sedikit hasil alam yang kita nikmati dalam bentuk sesaji sederhana. Setiap generasi yang hidup di desa itu harus ingat, bahwa mereka bisa tinggal di sana berkat kerelaan makhluk lain untuk berbagi tempat tinggalnya. Kita tentu tidak bisa membuktikan secara ilmiah, apakah memang benar ada hal-hal semacam makhluk halus yang menjadi penghuni pohon dan sebagainya. Apakah mereka memang mau dan bisa makan sesajian. Kita tidak bisa memastikan. Tetapi seekor semut pun berguna bagi kita, sehingga kita juga perlu berterimakasih pada mereka. Kenyataannya semut-semut itu yang pasti mendapat makanan dari sisa persembahan kita. Paling tidak sikap mental yang baik kita kembangkan. Pikiran dibiasakan untuk berterimakasih, untuk selalu mengusahakan kehidupan bersama yang harmonis, untuk selalu mengingat bahwa manusia hidup tidak sendiri dan memang tidak mampu untuk hidup sendiri.


Pemahaman ketiga adalah kita melihat bahwa dalam Veda ada penghormatan terhadap pohon-pohon tertentu. Tumbuhan yang disucikan oleh umat Hindu antara lain Tulasi, Bael (Bilva), dan Pippala. Di sini pohon-pohon ini dihormati sebagai suatu individu, suatu pribadi yang istimewa. Sebagai contoh, Tulasi terutama dipuja sebagai manifestasi dari Vrinda-devi oleh para Vaishnava. Tulasi merupakan tumbuhan yang disayangi Tuhan Yang Maha Esa Sriman Narayana. Setiap bagian tumbuhan ini adalah mutlak diperlukan dalam segala jenis pemujaan kepada Sriman Narayana. Daun-daunnya dan bunga-bunganya digunakan untuk untaian bunga yang dipersembahkan kepada Tuhan. Kayunya ada dalam kapas tercelup minyak yang digunakan untuk persembahan pelita kepada Tuhan. Selain itu bila digiling menjadi pasta, dia dapat digunakan sebagai penyejuk yang dipersembahkan juga untuk Tuhan. Api homa menyala dengan kayu Tulasi pula. Setiap yajna dan puja tidak sempurna tanpa kehadirannya. Tulasi menyatakan ideal seorang bhakta yang mencintai Tuhan dengan segenap jiwa raganya. Setiap bagian dirinya adalah persembahan bagi Tuhan. Hidupnya adalah semata demi memuliakan Sriman Narayana di dunia ini. Mungkinkah kita mendapatkan teladan lain yang sebaik Tulasi dalam memuja Tuhan? Bahkan hanya dengan berada di dekatnya dan melihatnya, seorang Hindu segera diingatkan akan Sriman Narayana pujaannya. Karena itulah semua keluarga Hindu tradisional biasanya menanam Tulasi di rumahnya dan memujanya setiap hari. Tulasi juga bisa digolongkan sebagai tadiya. Ini adalah istilah yang digunakan untuk menyatakan segala benda yang berhubungan dengan Tuhan. Semua tradisi Bhakti dalam Hindu menyatakan bahwa tadiya ini juga harus dipuja, karena pemujaan itu akan menganugerahkan bhakti yang semakin dalam kepada Tuhan. Oleh karena itu kita juga mengenal kebiasaan memisahkan semua alat-alat yang digunakan untuk puja (kumbhan, vattil, piring, vastram, ganta, tripada, dsb.), dengan alat-alat yang kita gunakan untuk diri kita sendiri. Alat-alat ini disucikan, bahkan dihormati sedemikian rupa, karena kehadirannya menyatakan kehadiran Tuhan. Pohon-pohon yang memiliki hubungan khusus dengan pemujaan kita pada Tuhan, seperti Tulasi, Bilva, dan Pippala, juga turut dihormati dan dipuja sebagai pribadi-pribadi istimewa.

Tulasi

Pemahaman yang keempat adalah bahwa pohon sendiri merupakan simbolisasi Tuhan, bahkan Citra dari Tuhan Sendiri. Dalam Veda, Citra Tuhan dapat diwujudkan dengan Sila (batu) seperti Salagramam, Lekhya (lukisan) seperti Yantra-Mandala, dan juga Daru atau kayu. Tuhan dalam kayu disebutkan oleh Taittiriya-upanishad (10.12) adau yaddaro plavate sindho pare apaurusam tada ravasva durdano tena yahi parasparam. Citra Tuhan ini, adalah Kebenaran Mutlak dalam sebatang kayu, yang tiada terbentuk oleh tangan makhluk fana, mengapung di atas samudera. Dengan memuja-Nya, kediaman tertinggi dan kesempurnaan yang paling akhir dapat dicapai. Kebenaran Mutlak dalam sebatang kayu ini dijelaskan dalam Purana dan Itihasa sebagai Daru-brahman, yang kini dipuja di Jagannath Puri Orissa, India Timur. Daru-brahman hadir dalam Tiga Wujud yang dikenal sebagai Jagannath, Balabhadra, dan Subhadra. Para Vedanti memahami-Nya sebagai pengejawantahan Ananda (Kebahagiaan Tertinggi), Cit (Kesadaran Tertinggi), dan Sat (Kenyataan Tertinggi atau Kekekalan). Mereka adalah Trimurti Hindu, Vishnu, Rudra, dan Brahma, sekaligus merupakan Adi-parasakti. Para Tantrika memuja-Nya sebagai Adi Bhairava, Uttara-sadhaka, dan Uttara-sadhika. Bagi Vaishnava dinyatakan sebagai perwujudan Paravasudeva dengan berbagai sakti-Nya. Bagi Jaina adalah Sang Jina, dan bagi Buddhis Vajrayana adalah Tri Ratna, sebagaimana tercantum dalam Jnanasiddhi dari Indrabhuti-tantra. Para Adivasi (suku pribumi) tetap memuja-Nya dalam pohon yang berada di desa mereka sebagai Jagant-Kitung atau ada pula yang menyebut-Nya dengan tiga nama Jakeri-penu, Tana-penu, dan Murabi-penu, dalam wujud pilar kayu. Sungguh menarik juga ketika Media Hindu mengatakan bahwa umat Hindu Alukta melihat pohon tertentu sebagai sthana dari Puang Matua atau Tuhan Yang Maha Esa.

Citra Sri Sri Jagannath, Balabhadra, dan Subhadra di Mayapur, Bengala, India.

Persembahyangan di “pohon” memang ada dalam Hindu dan ini bukanlah bentuk keyakinan primitif atau kesesatan yang menjauhkan dari Tuhan Sejati. Tuhan memang berada di pohon, bahkan di setiap tempat dan sudut semesta. Umat Hindu diajarkan dan dilatih untuk melihat kehadiran-Nya yang universal itu. Kita dibawa untuk dapat menghargai dan menghormati alam ciptaan-Nya. Betapa kasih sayang-Nya dan berkat-Nya ada dalam setiap elemen yang menyusun seluruh manifestasi kosmis ini. Mereka yang tidak dapat memisahkan kehidupannya dari alam, menemukan Tuhan di dalam alam itu sendiri. Bahkan Kebenaran Mutlak Tertinggi, Parabrahman, telah mewujudkan Diri-Nya sebagai Daru-brahman, Kebenaran Mutlak dalam sebatang kayu, oleh cintakasih-Nya kepada segenap ciptaan-Nya, terutama bagi mereka yang juga menyayangi ciptaan-Nya.

Jumat, 18 September 2009

Tempat Pemujaan Buddhadeva bagi Vaishnava (Hindu)

Bila ada pertanyaan, apakah Vaishnava memuja Buddha? Maka jawabannya YA, tetapi bukan dalam Vihara Buddhis, karena ini bukan tempat sembahyang bagi para pengikut Veda. Buddhis tidak menerima Veda sebagai kebenaran, karena itu tidak sepantasnya para Vaishnava turut memuja Buddha di Vihara, di samping konsep Buddha yang dipegang oleh kedua ajaran juga berbeda. Namun bukan larangan bagi Vaishnava maupun umat Hindu yang lain untuk pergi ke Vihara dan menghormati "Buddhanya umat Buddha". Bagaimanapun juga kita memuliakan Sakyasingha Buddha atau Gautama Buddha sebagai pribadi yang terhormat. Seorang guru agung bagi banyak orang yang juga turut kita ajak bersama-sama berbagi susah dan senang bersama di dunia ini.

Pura Agung Jagannath di Puri, Orissa, India

Lalu di manakah para Vaishnava memuja Buddhadeva? Tentunya di Jagannath Puri, Orissa. Karena kita memuja Jagannath sebagai Param-brahman, dan Buddhadeva adalah salah satu wujud-Nya. Selain itu umat Hindu juga memuja Buddhadeva di Mahabodhi Vihara, di Bihar. Buddhadeva yang dipuja oleh Vaishnava merupakan salah satu wujud manifestasi Jagannath yang adalah Adi-Buddha, sumber semua potensi pencerahan, bukan Buddha Sakyasingha, Buddha historis yang merupakan manusia dan guru besar yang telah mencapai pencerahan, pendiri agama Buddha yang masih ada di jaman modern ini. Vajrasana atau Mahabodhi Vihara dinyatakan sebagai tempat pemujaan Adi-Buddha, jadi tidak mengkhusus pada peringatan pencapaian pencerahan Buddha historis saja. Lalitavistara bab 21 menyatakan bahwa Sakyasingha (Siddhartha) duduk di bawah pohon Bodhi di Vajrasana demi mencapai pencerahan sebagaimana para Buddha sebelumnya (purvabuddhasanasthah). Jadi jelas bahwa Mahabodhi Vihara tidak hanya dimaksudkan sebagai monumen peringatan pencapaian pencerahan Sakyasingha saja, melainkan semua Buddha sebelumnya. Dengan kata lain Mahabodhi merupakan tempat memuja hakikat tertinggi Kebuddhaan itu sendiri yang disebut Adi-Buddha dalam Vajrayana dan Vishnu-avatara Buddha atau Jagannath dalam Vaishnavisme. Inilah sebabnya mengapa para Vaishnava hanya bersembahyang pada Buddha di Mahabodhi Vihara saja.

Mahabodhi Vihara, Bihar

Arca Buddha dalam Mahabodhi Vihara. Satu-satunya Arca Buddha di India yang dipuja oleh umat Hindu ortodoks

Gaya-ksetra, tempat perziarahan suci dalam Veda bahkan sebelum munculnya Gautama Buddha historis

Bagaimana dengan para Vaishnava dan umat Hindu Indonesia secara umum? Apakah harus ke India dulu untuk bisa memuja Buddha? Untuk ini kita harus "melihat" sejarah. Dari sumber-sumber Buddhisme di Cina, dikatakan bahwa raja Subhakarasingha dari Odra atau Orissa berjasa dalam membawa agama Buddha ke Cina. Subhakarasingha dikatakan merintis penyebaran agama Buddha ke Cina dengan membawa Mahavairochana-sutra dan sebuah kitab ikonografi memuat berbagai mandala yang bernama Sarvatathagatha-tattvasamgraha yang secara khusus menekankan pentingnya Mahavairochana. Mahavairochana di sini juga merepresentasikan kembali konsep Adi-Buddha-Jagannath yang sudah berkembang di Orissa sebelumnya. Mandala-mandala terkenal yang berkaitan dengan ajaran ini antara lain Mahakaruna-garbhodbhava-mandala dan Vajradhatu-mandala. Ajaran-ajaran ini memang mencapai popularitasnya pada awal abad ke-8 di Orissa. Jagannath yang dipuja di Orissa sebagai Adi-Buddha sekali lagi mendapat tempat-Nya di pusat Vajradhatu-mandala sebagai Mahavairochana. Para sejarawan di Orissa meyakini bahwa ajaran ini mencapai Cina setelah melalui Sumatra dan Jawa, di Indonesia. Ajaran tentang Mahavairochana ini masih dianut di Cina dan Jepang sampai sekarang.

Ajaran ini juga berkembang dengan kuat di Indonesia di masa kejayaan Srivijaya-Sumatra dan Mataram-Jawa, bisa dilihat dari isi kitab Sang Hyang Kamahayanikan Mantrayana, yang masih dilestarikan hingga saat ini oleh sebagian umat Buddha Indonesia. Bahkan lebih dari itu ternyata juga sampai pada jaman Majapahit yang melahirkan konsep Siva-Buddha sebagaimana ditemukan dalam kitab Sutasoma. Buddhisme Indonesia tampaknya merupakan turunan Mahayana-Vajrayana-Mantrayana. Para praktisi ajaran ini menyebut diri mereka mengikuti Dharma Kasugatan. Memang Buddha historis juga disebut dengan gelar Sugata, tetapi Amarasingha terutama menggunakan nama Sugata Buddha untuk menyebut Vishnu-avatara Buddha. Melihat pelaksanaan Dharma Kasugatan dan keyakinannya akan konsep Adi-Buddha yang theistik, maka tampaknya Buddhisme Indonesia ini bersifat Vajrayana. Theravada, yang lebih bersifat non-theistik, mazhab Buddhisme terbesar di Asia Tenggara dan Srilanka tampaknya tidak banyak berpengaruh pada Buddhisme Indonesia di masa lampau, yang sekarang sisa-sisanya masih ditemukan di beberapa tempat. Kompleks Candi Borobudur merupakan pengejawantahan fisik dari ajaran ini.

Candi Buddha terbesar di dunia ini merupakan Vajradhatu-mandala tiga dimensi yang luar biasa, dengan Mahavairochana di pusatnya, yang dilambangkan dengan stupa induk Borobudur. Sedangkan Mendut merupakan mandala Buddha Mahavairochana yang juga diuraikan dalam Kamahayanikan. Mahavairochana Buddha kembali mewakili konsep Adi-Buddha dan Jagannath yang juga diyakini dan dipuja oleh Vaishnava. Di antara kedua candi ini, yang posisinya membentuk garis lurus, terdapat Candi Pawon. Pawon merupakan tempat puja Homa atau Agnihotra, sebuah ritual api suci yang nyaris hanya dilaksanakan dalam Vajrayana saja, selain dalam agama Hindu tentunya. Homa juga masih dilaksanakan oleh para pengikut Shingon Buddhisme di Jepang, salah satu cabang Tantra Buddha yang juga memuliakan Mahavairochana. Di Jepang upacara ini disebut Goma. Poros Mendut-Pawon-Borobudur dengan jelas menggambarkan konsep dan ajaran agama Buddha mana yang diterapkan di sini.
Dengan demikian kompleks Borobudur merupakan satu lagi tempat suci Buddha yang juga boleh menjadi tempat persembahyangan Vaishnava, setelah Mahabodhi Vihara di Gaya (Bihar). Sehingga secara spiritual tidak mengherankan bila Borobudur-Buddhis dibangun serangkaian dengan kompleks Candi Prambanan-Hindu (Prambanan=Param-brahman=Para-vasudeva). Borobudur dibangun berdasarkan konsep bahwa dia merepresentasikan Kebuddhaan Tertinggi dalam Vajradhatu-mandala yang berpusat pada Mahavairochana. Mahavairochana adalah Adi-Buddha yang adalah Jagannath atau Vishnu sebagai Svayam-bhagavan-para-vasudeva atau Param-brahman. Sedangkan Prambanan menghadirkan Param-brahman dalam representasi Tri Natha, Tri Deva, atau Tri Murti. Keduanya menyatakan Kebenaran Mutlak Tertinggi yang sama! Sehingga bagi umat Hindu di Indonesia, khususnya para Vaishnava, di candi-candi inilah mereka dapat memuja Buddhadeva.

Sebagai kesimpulan dapatlah kita nyatakan bahwa Sakyamuni, Sakyasingha, atau Gautama yang dikenal sebagai Buddha historis bukanlah Buddha yang dipuja oleh para Vaishnava sebagai Vishnu-avatara Buddha. Sakyasingha merupakan guru agung yang telah mengalami pencerahan tidak disembah oleh para Vaishnava, bahkan kenyataannya umat Buddha pun juga tidak menyembahnya. Umat Buddha hanya menghormatinya sebagai guru pembimbing, teladan yang tiada taranya bagi mereka. Buddha yang dimaksud oleh para Vaishnava berbeda dengan yang dimuliakan oleh umat Buddha sebagai pendiri agamanya. Perbedaan ini terutama sangat jelas sehubungan dengan pandangan kalangan Theravada dari Buddhisme. Selama ini golongan Vaishnava dianggap bertanggung jawab atas masuk atau diserapnya Buddha historis sebagai salah satu Avatara serta memperoleh kehormatan dalam pantheon deva-deva Hindu. Ini tidaklah benar! Pemujaan Vaishnava kepada Buddhadeva mendahului kemunculan Sakyamuni atau Buddha historis.

catatan: Kamahayanikan memang menyatakan bahwa Mahavairochana memancar dari wajah Sakyasingha. Namun sekali lagi, ini tampaknya tidak bersesuaian dengan keyakinan Buddhis populer yang memandang Gautama Buddha hanya sebagai pribadi agung yang telah mencapai pencerahan sempurna tanpa mengidentifikasikannya dengan makhluk illahi apapun. Akan tetapi, ketika kita berjumpa dengan konsep Trikaya Buddha dalam Mahayana-Vajrayana atau Dharma Kasugatan, maka kita akan menemukan hal yang hampir sama sekali berbeda dengan pandangan Buddhis tradisionalis (Theravadin). Konsep Trikaya Buddha lebih dekat dengan pemahaman Buddhadeva dalam Vaishnavisme. Dharmakaya Buddha adalah Jagannath atau Adi-buddha yang paralel dengan Para-vasudeva dalam Vaishnava-tantra. Sambhogakaya Buddha paralel dengan Vaibhava-avatara Buddha. Nirmanakaya Buddha adalah Sugata Buddha dalam Vaishnavisme (sedangkan dalam Mahayana-Vajrayana saat ini adalah Sakyamuni Buddha). Penelitian yang dilakukan oleh Bhakti Ananda Goswamy di berbagai negara Buddhis menunjukkan adanya kesejajaran teologi antara Vaishnavisme dengan berbagai pandangan denominasi-denominasi Mahayana-Vajrayana. Penelitian beliau tentang ajaran Sukhavati (Pure Land Buddhism/Tanah Suci) memperoleh kesimpulan yang mirip dengan observasi saya pada Vajrayana Kalinga dan hasil diskusi saya bersama Prof. Fakir Mohan Das Sahityacharya dari Uttkal University, Orissa. Dengan demikian dapat kami simpulkan bahwa Sakyamuni atau Gautama Buddha yang dikenal dalam komunitas Theravadin adalah 100% bukan Avatara Vishnu, sekalipun kesimpulan yang kurang tegas akan muncul bila kita membicarakan Buddha dalam pandangan Mahayana-Vajrayana (apakah Buddha mereka sama dengan Buddha yang dimaksud oleh pengikut Veda).

Jumat, 24 Juli 2009

Darshan, Misteri dalam Sebuah Pura

Sebagai bagian dari Kebenaran Mutlak Tertinggi, makhluk hidup, jivatma, memiliki pula kebebasan berkehendak yang benar-benar dapat kita rasakan sendiri. Ketika kita mengetahui sambandha-jnana, hubungan kekal kita dengan Sang Sumber Segala, maka pada saat itulah kehendak bebas ini memiliki arti. Ketika pengetahuan ini terwujud bagi sang jiva, inilah saatnya dia menggunakan kebebasannya untuk menjadi terikat.

Menjadi terikat dengan Bhagavan, Pribadi Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa, adalah satu-satunya jalan untuk menghindari terjebak dari ikatan-ikatan lain yang merupakan akar kesengsaraan. Awal dari segalanya adalah ketika ikatan ini, ikatan cintakasih, antara jiva dan Sri Bhagavan ditegakkan. Saranagati, jalan penyerahan diri atau prapatthi, pengikatan tanpa syarat, adalah yang paling esensial dari sambandha-jnana. Gita memberi tahu kita bahwa penyerahan diri kepada Penguasa Tertinggi, Sri Krishna, adalah satu-satunya yang diinginkan, dan hanya dengan penyerahan diri yang demikian itu segala keinginan akan sepenuhnya dikabulkan dengan sebaik-baiknya.

Setelah sambandha ada abhideya. Bagaimana kita mencapai kedudukan kita yang benar. Kegiatan apa yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan kita yaitu mencintai Tuhan Sri Krishna. Inilah Abhideya. Ada lima hal yang terpenting dirumuskan oleh sastra dan para Acharya berkenaan dengan ini, yaitu (1) bhagavat-sravana, bhagavat-kirtana, dan bhagavat-smaranam, (2) anghri-sevanam, (3) mathura vasa, (4) sadhu-sanga, dan (5) sri harinam sankirtana. Anghri-sevanam juga dikenal dengan Archanam. Untuk melaksanakan Archana ini kita diberikan beberapa bentuk vigraha seperti lukisan, arca/citra, dsb. yang harus dipuja dengan mantra dan upacara.

Segala hal duniawi akan disucikan dan dirohanikan oleh pengaruh persembahan. Ketika kita mempersembahkan benda-benda duniawi kepada pujaan kita, kita tidak boleh berpikir bahwa benda-benda ini memiliki nilai jasmaniah yang dapat kita nikmati. Ini disebut bhuta-suddhi. Karena tujuan pemujaan adalah rohani, maka benda-benda rohaniah dipersembahkan oleh seorang pelaku rohani melalui kegiatan-kegiatan rohani pula. Inilah Archana. Rupa Tuhan yang dipuja bukanlah berasal dari benda-benda/bahan-bahan duniawi. Rupa itu adalah rohani dan tiada berbeda dari Sri Bhagavan Sendiri.

Netra-unmillanam, atau ritus "membuka mata", merupakan bagian terpenting dalam pentahbisan Archa. Hanya setelah itulah, Tuhan dinyatakan hadir secara rohani di dalam Rupa Archa-Nya

Ketika kita memohon Sri Bhagavan Krishna hadir dalam rupa Archa-Nya, ini disebut prana-pratistha. Bagian terpenting prana-pratistha adalah ‘membuka mata’. Ketika Archa-Nya disthanakan oleh para penyembah, maka sthapati (pengukir) memasuki Ruang Mahasuci dan memahat mata Arca atau bila mata Arca telah terukir, maka saat itu kain penutup mata dibuka. Hanya setelah proses ini dilalui, Bhagavan dikatakan telah bersthana sepenuhnya dalam Rupa Archa-Nya. Sejak saat itu melihat Rupa Bhagavan itu disebut DARSHAN. Sejak saat itu pula melihat, mempersembahkan sesuatu, atau apapun yang berhubungan dengan Murti-Nya merupakan kegiatan rohani.

Beribu-ribu peziarah mengunjungi kuil-kuil dan tempat-tempat suci untuk memperoleh darshan dari Sri Bhagavan. Walaupun sebagian besar dari mereka berpikir telah memperoleh darshan-Nya, namun sesungguhnya mereka bermil-mil jauhnya dari darshan yang sejati. Ketika seseorang benar-benar memperoleh darshan Bhagavan, maka dia tidak akan bisa berkata seperti, “Archa itu terbuat dari kayu”, “Archa itu terbuat dari batu atau tanah liat” dan “Jagannath tidak mempunyai kaki atau tangan”. (Jagannath atau Jagadisha-Jagadishwara, berarti Tuhan Penguasa Seluruh Alam Semesta)

Berdoa di depan Ruang Mahasuci. Darshan, meperlihatkan dan mempersembahkan diri kita kepada Tuhan

Kegiatan ‘melihat’ orang-orang ini dipenuhi semangat memuaskan diri, yang bukan semangat seorang hamba Tuhan. Mereka tidak mampu melihat Bhagavan karena ‘keinginan untuk melihat Tuhan’ telah menghalangi, menutupi penglihatannya. Srila Prabhupada Bhaktisiddhanta Sarasvati memperingatkan “Jangan pergi untuk melihat Jagannath dengan semangat memuaskan diri, yang lahir dari sikap menentang-Nya dan yang kini biasa ada di dunia. Masukilah Kuil Sri Jagadisha dengan hanya membawa bahan-bahan yang diperlukan, yaitu sikap pengabdian cintamu yang dapat menyenangkan Jagannath.”

“Camkanlah bahwa ‘melihat’ Jagannath dengan mata duniawi adalah bukan cara seharusnya seorang abdi melihat. Watak seorang hamba adalah memperlihatkan kepada-Nya sifat sejati (svarupa) dari setiap pelayanannya, dengan kata lain kita menjadi objek untuk dilihat. Artinya kita bertindak sedemikian rupa dalam pandangan-Nya agar kita dapat membahagiakan junjungan kita Sri Bhagavan. Sikap seorang penyembah bukanlah untuk mendapatkan kenikmatan dengan melihat Bhagavan. Namun hendaknya sikap “Bhagavan akan senang bila melihat saya”, bersinar cemerlang dalam hati si pelayan. Inilah Darshan yang sejati”.

Dalam menghadap Tuhan kita harus membuang jauh-jauh vanik-vrutti, kecenderungan seorang pedagang. Kita tidak boleh menganggap Tuhan sebagai bagian produk alam yang dapat kita nikmati. Beliau bukanlah objek untuk memuaskan kita. Beliau adalah tujuan pelayanan, pemujaan, dan segala persembahan diperuntukkan bagi-Nya. Kita hendaknya tidak menuntut sesuatupun dari Dia seperti kita berdagang, saya bayar-engkau beri, saya berdoa-engkau kabulkan. Tuhan bukanlah alat pemuas keinginan dan pemenuh kebutuhan. Dia bukan pelayan kita. Kitalah pelayan kekal-Nya, dan kita harus mempersembahkan pelayanan kita kepada-Nya tanpa mengharapkan imbalan sebagai balasan. Inilah darshan. Datang ke kuil bukan untuk “melihat” Krishna tetapi untuk “dilihat” oleh Krishna. Kita hendaknya menjadikan diri kita pantas dilihat oleh-Nya dan membahagiakan-Nya. Kita bukan menikmati Rupa-Nya, namun berusaha memberi kenikmatan bagi-Nya. Inilah misteri darshan. Pertemuan mistis yang terjadi bukan saja melalui mata namun juga melalui hati.

Keterangan
Bhagavat-sravana, bhagavat-kirtana, dan bhagavat-smaranam: Mendengar tentang kemuliaan Tuhan, memuji atau membicarakan-Nya, dan mengingat-Nya (meditasi dan kontemplasi).
Anghri-sevanam: Melakukan pelayanan kepada kaki padma Tuhan dengan cintakasih.
Mathura vasa: Tinggal di Mathura (Mathura, adalah tempat perziarahan suci yang merupakan “tempat kelahiran” atau Janmasthana dari Sri Krishna di bumi ini. Mathura di sini memiliki berbagai dimensi makna, bukan saja berarti nama sebuah kota di daerah Agra, Uttar Pradesh, India itu. Namun ini membutuhkan penjelasan yang lebih lanjut)
Sadhu-sanga: Pergaulan rohani dengan para sadhu, pribadi-pribadi suci yang juga tekun dalam pengabdian cintakasihnya kepada Tuhan.
Sri harinam sankirtana: Mengumandangkan pemujian Nama-nama Suci Tuhan secara beramai-ramai.

“Godhead is not an object to serve us
He is the only object of all service
He is not our servitor. We are His eternal servitors
We are to offer our service to Him
Without expectation of getting anything in return
If we demand anything in lieu of our service,
That would be a bartering system, VANIK-VRUTTI
Complete surrender, submitting for serving,
This is SARANAGATI or PRAPATTHI
And PRAPATTHI is the real DHARMA”
(Thakur Srila Prabhupada Bhaktisiddhanta Sarasvati Goswami Maharaja)

Senin, 20 Juli 2009

Kekuatan Ritual di Pura

Besakih, Pura terbesar di Bali

Pura di Bali biasanya tidak memiliki pemujaan Archa yang intens sebagaimana Archanam yang dilaksanakan dalam Pura Hindu di India atau yang didirikan oleh keturunan India, atau yang didirikan berdasarkan Agama-sastra, baik Vaishnava-agama, Saiva-agama, maupun Sakta-agama. Hindu di Bali memiliki sistem Agamika-nya tersendiri yang unik, tanpa pemujaan Citra Suci yang sangat menonjol seperti di Pura Hindu pada umumnya. Tempat sembahyang keluarga yang menerima sistem Pancharatra Vaishnava dibentuk seperti replika yang lebih sederhana dari Pura umum yang besar. Konsep Archana yang sama juga dilaksanakan, namun lebih sederhana. Begitu pula tempat sembahyang keluarga di Bali atau Pemerajan juga merupakan replika sederhana dari Pura yang besar.

Persembahan... bagi tamu yang terhormat

Saya mengingat bagaimana dahulu almarhumah nenek saya dari Bali dengan tekun melaksanakan Archana setiap hari di Pemerajan kami. Beliau mempersiapkan kendi air dan bokor-bokor dari perak, lipatan-lipatan kain yang keemasan, talam perak persegi empat dengan wadah-wadah kecil berisi air, pasir halus (untuk sikat gigi katanya), bedak cendana, irisan daun pandan yang diberi parfum, sisir, cermin kecil, dan bunga-bungaan. Lalu makanan yang baru dimasak, dengan sedikit kue dari pasar, dan buah. Sungguh sangat menyenangkan melihatnya.
Pertama-tama beliau mengundang Devata keluarga kami dengan wangi asap dupa. Lalu beliau menuangkan air dalam wadah-wadah perak itu satu persatu. Katanya Devata kami baru datang, dicuci kaki dan tangannya. Lalu dari kendi air beliau menuangkan isinya ke wadah lain lagi. Katanya Devata kami yang baru datang, akan berkumur, dan minum air sedikit supaya tidak “kering”. Lalu nenek mulai memercikkan air dari talam perak yang bisa kita anggap seperangkat alat kosmetik itu. Katanya Devata mencuci muka, bersihkan gigi, dan berhias. Setelah itu barulah beliau mempersembahkan lipatan-lipatan kain itu, katanya Devata sekarang berganti pakaian, lalu akan memakan persembahan kami. Setelah itu proses minum, cuci mulut, cuci tangan diulang lagi. Menyenangkan melihatnya saat anak-anak, dan kita merasakan bagaimana Devata keluarga kami sungguh-sungguh hadir di sana melakukan semua itu. Seorang tamu agung yang istimewa. Persis seperti bagaimana nenek saya juga menyambut seorang pendeta, almarhum Pedanda keluarga kami dahulu. Saya membayangkan bagaimana tamu ini, seorang Brahmana yang statusnya lebih tinggi dari kami, namun disambut begitu baik oleh nenek. Nenek memperlakukannya dengan sangat hormat, tetapi Pedanda ini juga sangat menghormati nenek saya. Beliau memperlakukan nenek seperti ibunya. Mungkinkah Devata kami juga merasakan hal yang sama ketika nenek mempersembahkan semua upacara itu?

Banten Bali, berbagai jenis makanan dan buah-buahan disajikan bagi Devata

Apa yang kita lakukan saat Archanam mungkin tampak lucu dan kekanak-kanakan. Tetapi melalui pengetahuan Veda dan Agama-sastra kita memahami bahwa perilaku yang tampak kekanak-kanakan ini bila ditujukan kepada Archa-avatara memiliki kekuatan rohani yang luar biasa pentingnya. Sri Kapali Shastriar berkata, ”Upacara-upacara keabadian ini memiliki peran yang sangat penting dalam membangkitkan kesadaran manusia yang senantiasa diarahkan ke dunia luar untuk dapat memasuki kenyataan sejati dari kehadiran batiniah; mereka menanamkan kesan mendalam bagi indera jasmani kasar seorang manusia dengan kekuatan yang layak diperhitungkan, sebagai puncak dari hasil semuanya adalah terbukanya hubungan dirinya dengan keagungan sejati.” Paushkara Samhita juga menyatakan, “Bahkan bila orang dengan pikiran kalut oleh khayalan berkesempatan melihat ritual-ritual ini dipersembahkan, maka kebiasaan mereka berpikir jelek, keinginan-keinginan buruk mereka, kesimpulan-kesimpulan yang tak benar, ide-ide dan pertimbangan jahat, termasuk ketidakpercayaan mereka kepada Tuhan akan mulai musnah.”

Engkau begitu dekat, Tuhan...

Atheisme tidak begitu menjadi isu penting dalam Hindu, karena kita memiliki semua ini. Ritual-ritual ini adalah sarana yang memiliki kekuatan dahsyat, dirumuskan oleh Veda dan Agama-sastra untuk membuat kita, para pemuja, dapat menginsafi dalam setiap kegiatan, setiap aspek kehidupan, hubungan kita yang begitu erat dan akrab antara kita dengan Tuhan. Kita tidak lagi HARUS percaya kepada Tuhan, tetapi kita MEMANG meyakini-Nya, karena kita sungguh telah merasakan kehadiran-Nya dalam hidup kita. Inilah fasilitas utama yang sebenarnya terdapat di Pura Hindu.

Kamis, 16 Juli 2009

Pura adalah Tempat Tuhan Menjadi Bagian dari Masyarakat Manusia

Orang-orang pergi ke Pura bukanlah untuk melakukan perenungan, kontemplasi, atau untuk meditasi. Ini dapat dilakukan dengan lebih nyaman di rumah masing-masing. Kita juga pergi ke Pura bukan untuk sekedar bersenang-senang, kumpul-kumpul dengan sesama umat, melakukan berbagai hal dalam kebersamaan. Bukan! Memang ini juga salah satu fungsi atau fasilitas yang diberikan Pura bagi kita. Tapi bukan untuk itu tujuan utama kita.

Umat Hindu di Bali meniti anak tangga masuk Pura Besakih

Di dalam Pura ini kita datang dan menemui Tuhan Sendiri dalam “keserupaan-Nya” dengan kita. Di sini kita akan menemukan kedamaian dan kenyamanan, penghiburan dan pelipur lara. Di sini duka derita kita diringankan dan disembuhkan. Namun yang terpenting di sinilah kerinduan hati kita pada Tuhan memperoleh pemenuhannya. Semuanya dipenuhi oleh Kekuatan dan Kehadiran Illahi yang begitu luhur, jauh lebih mulia dari kita, tiada taranya, namun dalam saat yang sama juga begitu dekat dan mudah ditemui. Dia ada di sini dalam suatu Rupa yang “seperti” kita, seperti salah satu dari kita, menjadi bagian dari kehidupan kita. Sebagaimana kita menjawab bila dipanggil, maka di sini Tuhan datang secara Pribadi ketika kita menyerukan Nama-Nya.

Umat Hindu di Bengaluru berdesak-desakan masuk ke dalam Pura

Ritual yang sangat efektif untuk menciptakan ikatan antara penyembah dengan Yang Disembah dan selalu ada bagi mereka yang mengunjungi Pura adalah Archana. Walaupun kini kata Archana ini sudah menjadi istilah umum dalam agama Hindu untuk menyebut persembahyangan, namun secara khusus Archana berarti melaksanakan segala hal yang berkaitan dengan Archa, Citra Suci Tuhan. Dalam Archa ini Tuhan menghadirkan Diri-Nya yang begitu mulia sebagai salah satu dari kita, yang mengijinkan kita berhubungan sepenuhnya dengan Beliau, baik melalui keheningan tumpahan perasaan - isi hati kita, kata-kata, dan karya fisik.

Yang Mahasuci Srimad Allakhiya Singhar, pemegang tahta suci Sri Ahobhila Matham memimpin pelaksanaan Puja-Archana bagi Tuhan Sri Sri Laksmi Narasimhadeva atau Sri Maalolan

Kita melakukan Archana di Pura sebagaimana kita memenuhi berbagai kebutuhan kita sendiri atau merawat anak kita sendiri. Archana ini memperlakukan Tuhan sebagaimana kita memperlakukan salah seorang dari diri kita. Kita membangunkan-Nya dari tidur lelap-Nya di pagi hari, memandikan-Nya, menghiasi-Nya dengan berbagai busana, menyambut-Nya setelah berhias seperti seorang istri yang mempersiapkan suaminya pergi bekerja, menghaturkan makanan, kemudian mempersilakan-Nya beristirahat, menikmati sedikit kudapan dan bersantai, sampai mengantar-Nya tidur pada malam hari. Ini dilakukan baik oleh mereka yang menjadi pendeta di Pura itu maupun dengan partisipasi umat yang mengunjungi Pura dan terlibat dalam berbagai tahapan Archana ini. Melalui Archana atau pemujaan inilah, suatu hubungan yang begitu karib terjalin antara kita dengan Tuhan. Sebuah ikatan yang semakin lama-semakin kuat, semakin hidup, dan semakin berhasil. Apabila kita sungguh ingin membangun relasi yang manis ini, maka pemujaan harus dilakukan terus-menerus, tiada putus-putusnya Tuhan dimohon kehadiran rohani-Nya dalam Archa. Archa ini atau Citra Suci Tuhan bahkan dalam tradisi dan teologi Vaishnava, yang juga didukung oleh pernyataan-pernyataan Veda dan tuntunan kitab-kitab Agamika, adalah bukan sekedar sarana konsentrasi atau objek untuk memusatkan pikiran belaka. Archa adalah sungguh-sungguh Tuhan Sendiri, Inkarnasi-Nya – Archa-avatara. Beliau sungguh-sungguh hadir dalam Rupa ini oleh belas kasih-Nya yang tiada bertepi, demi menerima pemujaan dan juga secara langsung memberikan Karunia-Nya kepada umat. Dia bukanlah patung simbol keagamaan belaka, yang mungkin penting secara relijius, tetapi tetap buta, bisu, dan tuli. Tidak! Bagi Vaishnava ini adalah Tuhan Sendiri dalam kehadiran rohani-Nya yang nyata dan manifestasi-Nya yang paling murah hati.

Para pendeta mengolesi Tubuh Rohani (Thirumeni/Divyamurti) Archa Tuhan Srinivasa Govinda (Narayana) dengan lulur rempah-rempah sebelum memandikan-Nya

Kehadiran-Nya di sini senantiasa dijaga oleh Archana, yang sekali lagi bukanlah sekedar doa, kontemplasi, dan meditasi saja, tetapi terdiri dari serangkaian ritual yang membuka kesempatan seluas-luasnya bagi umat manusia untuk terlibat di dalamnya secara fisik. Inilah mengapa Pura juga disebut Sannidhi. Itu berarti bahwa sannidhya, kehadiran Tuhan, dapat dialami, dirasakan, dan bahkan “dinikmati” sebesar-besarnya oleh semua kalangan masyarakat.

Plurk

Click untuk perbaiki dunia

Stop Smoking