Tampilkan postingan dengan label agamasastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label agamasastra. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Juli 2009

Tempat Sumber Air Yang Mudah Dicapai

Teologi Pancharatrika-agama yang menjadi dasar Vaishnava-tantra mengungkapkan Tuhan Yang Maha Esa dalam Lima Aspek Utama-Nya yaitu Para, Vyuha, Vaibhava, Antaryami, dan Archa. Para adalah aspek yang tiada terkatakan, tiada bandingannya, prinsip tertinggi yang tak terungkapkan. Vyuha merupakan aspek emenasi dari Para, yang termanifestasi sebagai ekspresi dari aspek-aspek tertentu dalam ketidakterbatasan Para. Vaibhava merupakan Inkarnasi, yang menampilkan berbagai karakteristik tertentu dari Tuhan dalam wujud tertentu pula. Suatu ketika, atas kehendak-Nya Sendiri, wujud atau bentuk itu dapat memanifestasikan Diri di alam fisik yang dapat dipersepsi oleh makhluk-makhluk terikat. Inilah yang secara umum disebut sebagai Avatara Tuhan. Antaryami adalah aspek yang meresapi segala-galanya dan berada di mana-mana. Manifestasi ini bersemayam sebagai Parama-atma yang senantiasa mendampingi jiva-atma dalam badan apapun mereka terlahirkan di dunia ini. Parama-atma dan jiva-atma inilah yang disebut “dua ekor burung hinggap di satu pohon (samane vriksha…)” dalam sloka Mandukya dan Svetashwatara-upanisad yang terkenal itu. Sedangkan Archa merupakan Inkarnasi dalam bentuk Ikon atau Citra Suci, yaitu ketika yang tak terbatas mewujudkan Diri-Nya dalam fenomena alam yang terbatas atas permohonan hamba yang memuja-Nya dalam kerinduan cinta mereka.

Tuhan yang bersemayam di "teratai hati". Dikenal pula sebagai Antaryami, Yang Bertahta di Lubuk Hati Terdalam semua makhluk.

Salah satu literatur Sri-vaishnava yang terkenal yaitu Sri Vachana-bhusanam (Perhiasan Indah Ajaran Suci), ditulis oleh Sri Pillai-Lokacharyar menyebutkan, “bhu-gata-jalam pole antaryamitvam; avarana-jalam pole paratvam; parkadal pole vyuham; perukkaru pole vibhavangal; atile tenkinamatukkal pole arcchaavataram. Tuhan yang bersemayam di hati (Antaryami) bagaikan air yang terkandung jauh di dalam tanah; Empat Emenasi (Vyuha) bagaikan air di samudera susu (yang sulit ditemukan); Para Inkarnasi yang turun ke dunia (Vaibhava-avatara), bagaikan air sungai, yang terkadang banjir, namun lebih sering mengering; namun Inkarnasi Citra ini (Archa-avatara) adalah telaga-telaga penampung air, yang setiap saat mudah kita temukan dan ambil airnya” (SVB: 39)

Citra Suci Sang Guru Agung, Sri Pillai Lokacharya

Inilah yang kita dapatkan dalam sebuah Pura Hindu. Tuhan Sendiri dalam Inkarnasi Citra-Nya! Kemudian di sana juga diadakan berbagai upacara yang termasuk dalam rangkaian Archanam sebagaimana disebutkan dalam posting terdahulu. Tuhan yang dipuja di Pura adalah “Sesosok Pribadi” yang khusus dan Beliau juga dipuja dengan cara-cara yang istimewa. Vyaktaih vyaktistham archayet, demikian sabda Agama. Namun pada saat yang sama si pemuja melihat dirinya tidaklah berbeda dengan Pujaannya. Tuhan adalah salah satu dari kita. Dia bagian dari kita. Maka si pemuja mempersembahkan segala hal yang dilakukannya sehari-hari bagi dirinya kepada Tuhan Pujaannya, tetapi dalam skala yang lebih istimewa. Istilah Tamil untuk Pura adalah Kovil (yang dalam bahasa Indonesia lalu berubah menjadi Kuil). Kovil artinya adalah tempat bersemayamnya seorang Raja, Ko. Tuhan yang distanakan di Pura tidaklah dianggap sebagai suatu Pribadi Tertinggi yang sulit didekati, dijauhkan dan tidak terjangkau. Namun beliau adalah pimpinan bagi umat manusia, yang terbaik di antara kita semua. Sebagai Raja, Beliau lebih mulia, lebih luhur, lebih segala-galanya dari kita. Namun beliau tetaplah salah satu dari kita, yang selalu memperhatikan kesejahteraan kita, sama-sama menanggung derita bersama kita, sekaligus juga menguasai dan mengatur setiap kegiatan kita. Jadi Tuhan di Pura ini diperlakukan sebagai seorang Raja.

Iring-iringan Archa Sri Ranganatha (Nammperumal) pada saat Vaikuntha Ekadasi di Srirangam, mengenakan Vajra-kavacha, busana permata dan intan-berlian. Beliau dibawa ke Aarayirakaal atau Aula Seribu Pilar, seperti sebuah ruang balairung kerajaan. Di atas tahta-Nya Dia disebut Rangaraja, Raja segala raja.

Kamis, 16 Juli 2009

Pura adalah Tempat Tuhan Menjadi Bagian dari Masyarakat Manusia

Orang-orang pergi ke Pura bukanlah untuk melakukan perenungan, kontemplasi, atau untuk meditasi. Ini dapat dilakukan dengan lebih nyaman di rumah masing-masing. Kita juga pergi ke Pura bukan untuk sekedar bersenang-senang, kumpul-kumpul dengan sesama umat, melakukan berbagai hal dalam kebersamaan. Bukan! Memang ini juga salah satu fungsi atau fasilitas yang diberikan Pura bagi kita. Tapi bukan untuk itu tujuan utama kita.

Umat Hindu di Bali meniti anak tangga masuk Pura Besakih

Di dalam Pura ini kita datang dan menemui Tuhan Sendiri dalam “keserupaan-Nya” dengan kita. Di sini kita akan menemukan kedamaian dan kenyamanan, penghiburan dan pelipur lara. Di sini duka derita kita diringankan dan disembuhkan. Namun yang terpenting di sinilah kerinduan hati kita pada Tuhan memperoleh pemenuhannya. Semuanya dipenuhi oleh Kekuatan dan Kehadiran Illahi yang begitu luhur, jauh lebih mulia dari kita, tiada taranya, namun dalam saat yang sama juga begitu dekat dan mudah ditemui. Dia ada di sini dalam suatu Rupa yang “seperti” kita, seperti salah satu dari kita, menjadi bagian dari kehidupan kita. Sebagaimana kita menjawab bila dipanggil, maka di sini Tuhan datang secara Pribadi ketika kita menyerukan Nama-Nya.

Umat Hindu di Bengaluru berdesak-desakan masuk ke dalam Pura

Ritual yang sangat efektif untuk menciptakan ikatan antara penyembah dengan Yang Disembah dan selalu ada bagi mereka yang mengunjungi Pura adalah Archana. Walaupun kini kata Archana ini sudah menjadi istilah umum dalam agama Hindu untuk menyebut persembahyangan, namun secara khusus Archana berarti melaksanakan segala hal yang berkaitan dengan Archa, Citra Suci Tuhan. Dalam Archa ini Tuhan menghadirkan Diri-Nya yang begitu mulia sebagai salah satu dari kita, yang mengijinkan kita berhubungan sepenuhnya dengan Beliau, baik melalui keheningan tumpahan perasaan - isi hati kita, kata-kata, dan karya fisik.

Yang Mahasuci Srimad Allakhiya Singhar, pemegang tahta suci Sri Ahobhila Matham memimpin pelaksanaan Puja-Archana bagi Tuhan Sri Sri Laksmi Narasimhadeva atau Sri Maalolan

Kita melakukan Archana di Pura sebagaimana kita memenuhi berbagai kebutuhan kita sendiri atau merawat anak kita sendiri. Archana ini memperlakukan Tuhan sebagaimana kita memperlakukan salah seorang dari diri kita. Kita membangunkan-Nya dari tidur lelap-Nya di pagi hari, memandikan-Nya, menghiasi-Nya dengan berbagai busana, menyambut-Nya setelah berhias seperti seorang istri yang mempersiapkan suaminya pergi bekerja, menghaturkan makanan, kemudian mempersilakan-Nya beristirahat, menikmati sedikit kudapan dan bersantai, sampai mengantar-Nya tidur pada malam hari. Ini dilakukan baik oleh mereka yang menjadi pendeta di Pura itu maupun dengan partisipasi umat yang mengunjungi Pura dan terlibat dalam berbagai tahapan Archana ini. Melalui Archana atau pemujaan inilah, suatu hubungan yang begitu karib terjalin antara kita dengan Tuhan. Sebuah ikatan yang semakin lama-semakin kuat, semakin hidup, dan semakin berhasil. Apabila kita sungguh ingin membangun relasi yang manis ini, maka pemujaan harus dilakukan terus-menerus, tiada putus-putusnya Tuhan dimohon kehadiran rohani-Nya dalam Archa. Archa ini atau Citra Suci Tuhan bahkan dalam tradisi dan teologi Vaishnava, yang juga didukung oleh pernyataan-pernyataan Veda dan tuntunan kitab-kitab Agamika, adalah bukan sekedar sarana konsentrasi atau objek untuk memusatkan pikiran belaka. Archa adalah sungguh-sungguh Tuhan Sendiri, Inkarnasi-Nya – Archa-avatara. Beliau sungguh-sungguh hadir dalam Rupa ini oleh belas kasih-Nya yang tiada bertepi, demi menerima pemujaan dan juga secara langsung memberikan Karunia-Nya kepada umat. Dia bukanlah patung simbol keagamaan belaka, yang mungkin penting secara relijius, tetapi tetap buta, bisu, dan tuli. Tidak! Bagi Vaishnava ini adalah Tuhan Sendiri dalam kehadiran rohani-Nya yang nyata dan manifestasi-Nya yang paling murah hati.

Para pendeta mengolesi Tubuh Rohani (Thirumeni/Divyamurti) Archa Tuhan Srinivasa Govinda (Narayana) dengan lulur rempah-rempah sebelum memandikan-Nya

Kehadiran-Nya di sini senantiasa dijaga oleh Archana, yang sekali lagi bukanlah sekedar doa, kontemplasi, dan meditasi saja, tetapi terdiri dari serangkaian ritual yang membuka kesempatan seluas-luasnya bagi umat manusia untuk terlibat di dalamnya secara fisik. Inilah mengapa Pura juga disebut Sannidhi. Itu berarti bahwa sannidhya, kehadiran Tuhan, dapat dialami, dirasakan, dan bahkan “dinikmati” sebesar-besarnya oleh semua kalangan masyarakat.

Selasa, 14 Juli 2009

Pura Berdiri Bukan Untuk Percaya pada Tuhan

Pura Hindu bukanlah dibangun untuk membuktikan atau mendemostrasikan eksistensi Tuhan. Pura bukanlah suatu bentuk pengakuan sejumlah orang terhadap “keyakinannya” dan juga pembuktian akan kebenaran keyakinannya itu. Eksistensi dan keyakinan adalah dua hal yang terpisah. Cabang filsafat Hindu yang disebut Nyaya (Logika-dialektik) dan Mimamsa (Hermenetik) selama ribuan tahun digunakan untuk menelaah berbagai hipotesis mengenai eksistensi Tuhan. Lalu ini ditegaskan lebih lanjut dalam Vedanta (veda-anta, secara harfiah berarti akhir dari Veda, atau puncak akhir dari pengetahuan yang tertinggi). Jadi seorang Hindu sebenarnya bukanlah seseorang yang menempatkan dirinya sebagai orang yang “percaya” kepada Tuhan. Tetapi adalah seseorang yang “mengalami” Tuhan. Para Maharishi bukanlah orang-orang yang mengajarkan agar kita percaya kepada Tuhan, tetapi bagaimana mengalami dan menginsafi Tuhan (experience and realize). Sraddha, atau keyakinan pada Hindu berbeda dengan konsep keimanan dalam tradisi-tradisi Abrahamistik yang menuntut keyakinan konseptual dan dogmatis. Sraddha Hindu merupakan keyakinan yang bersifat eksperiental dan realisasional (dialami dan diinsafi). Keyakinan memang menjadi dasar segalanya, tetapi keyakinan Hindu lebih bertitik berat pada “proses” bukan pada “hasil”.

Dibalik benteng ini, melalui gapura yang megah. Kita memasuki tempat yang bukan bagian dari dunia ini. Inilah tempat yang bukan menyatakan keyakinan kita pada Tuhan, tetapi tempat untuk mengalami Tuhan dalam kehadiran-Nya yang paling nyata (Pura ISKCON Thirupati)

Sebagai contoh perumpamaan sederhana, melalui serangkaian metode dan usaha tertentu seseorang bisa memperoleh 1 milyar dalam 3 bulan melalui investasi dengan modal awal 1 juta. Jadi orang yang menemukan cara ini memberitahukannya kepada umum. Dia tidak sekedar mengatakan beri saya 1 juta, dalam 3 bulan akan jadi 1 milyar. Tetapi dia mengatakan saya dahulu memiliki uang 1 juta, kemudian melalui teknik investasi ini saya akhirnya berhasil mendapat 1 milyar dalam 3 bulan, apakah kalian ingin mencoba? Orang yang berminat lalu datang kepada dia. Tentu juga setelah mempertimbangkan berbagai hal, misalnya mencoba melihat beberapa literatur ekonomi untuk mencoba mencari tahu apa benar cara investasi ini berhasil, lalu bisa juga dengan melihat orang yang lebih dahulu mengikuti cara itu dan ternyata berhasil. Lalu dengan keyakinan yang terbentuk ini dia mulai mempelajari metode itu dari seseorang yang sudah menguasainya, kalau tidak langsung dari orang yang “menemukannya”. Jadi beda kan, dengan orang yang mengatakan, "Beri saya 1 jutamu, dalam 3 bulan akan jadi 1 milyar? Kalau kamu tidak menyerahkannya pada saya, uang 1 jutamu akan habis tidak karuan dan kamu jadi pengemis di jalanan." Orang yang meyakini dan ikut dengan cara seperti ini adalah orang-orang yang ketakutan menjadi pengemis sekaligus ingin dapat untung besar dengan mudah tanpa berpikir apakah orang ini akan menipu dia atau tidak. Tetapi Sraddha dalam Hindu seperti orang yang berpikir alam contoh terdahulu itu. "Marilah kita gunakan modal 1 juta ini dengan baik lewat proses ini. Saya juga tidak mau sekedar berpangku tangan untuk dapat untung besar dan saya juga tidak takut menjadi rugi, toh banyak orang sebelum saya sudah berhasil, kalau saya tidak berhasil seperti mereka pasti ada sesuatu yang salah dengan saya." Introspeksi juga tumbuh di sini! Jadi inilah Sraddha, suatu keyakinan yang muncul dan bertumbuh secara dinamis. Bukan iman buta.

Melalui ritual-ritual berusia ribuan tahun inilah kehadiran nyata Tuhan dimohonkan dalam Pura-Nya (Gb. Chakra)

Sehingga demikian pula dalam Hindu, Tuhan bukanlah sesuatu yang harus dipercayai. Kepercayaan sekali lagi tidak berhubungan dengan eksistensi. Anda boleh percaya Si X ada atau tidak. Tapi bila Si X memang ada maka dia akan selalu ada, tak masalah anda percaya atau tidak. Demikian pula, Sri Bhagavan, Tuhan Yang Maha Esa. Suatu eksistensi itu dikenali, dialami, ditemui, bukan sekedar dipercayai. Dengan demikian seperti dikatakan tadi, umat Hindu tidak membangun Pura-nya untuk membuktikan imannya. Tuhan adalah Realitas Absolut itu, sumber utama dari segala kekuatan, kuasa, dan realitas-realitas yang lainnya. Itulah yang dinyatakan dalam Vedanta-sutra 1.1.2, janmadhyasya yatah.

Dan kekuatan Tuhan pun menyatakan Diri-Nya di antara kita...

Pura ini kemudian dibangun sesuai petunjuk Agamika-sastra sebagai sarana menyalurkan energi Divinitas, menghadirkan Sang Realitas Absolut itu ke tengah-tengah dunia realitas relatif ini. Karena itu Pura adalah pitham, tahta tempat bersemayamnya kekuatan rohani Tuhan sehingga dapat “bekerja”, dalam artian dapat diakses oleh masyarakat secara umum.

Minggu, 12 Juli 2009

Peran Pura Dalam Hindu

Pura bagi umat Hindu lebih dari sekedar tempat berkumpul dan bersembahyang

Dalam Hindu, agama dipandang sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan seseorang, maka dari itu maka konsep inipun harus diterjemahkan atau diterapkan dalam kehidupan keseharian seorang manusia Hindu. Salah satu ekspresi paling umum dari sebuah perasaan keagamaan atau suatu ide-ide relijius adalah usaha untuk menjalin hubungan dengan Tuhan. Ini sering diterjemahkan sebagai doa, sembahyang, pemujaan, dsb. Pura atau Kuil kemudian juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan keagamaan dalam Hindu, karena di sinilah tempat segala ide-ide relijius itu mendapatkan tempat untuk diungkapkan. Sekilas ini tidak berbeda dengan agama-agama lain yang juga memiliki berbagai tempat sembahyangnya masing-masing seperti Masjid atau Gereja.

Akan tetapi karena dalam Hindu, agama ini bukan lagi dipandang sebagai sekedar identitas diri atau sekedar pengakuan, tetapi menjadi satu dengan inti terdalam kehidupan itu sendiri, maka Pura, sebagai tempat suci Hindu juga dibentuk sebagai bagian dari kehidupan alamiah manusia. Sebenarnya dalam sudut pandang Hindu-Vedic, tidak terdapat garis embarkasi antara kehidupan sekular dan relijius, karena keseluruhan aspek kehidupan itu sendiri telah menjadi satu dengan perjuangan rohani seseorang dalam mencapai tujuan tertingginya atau parama-artham.

Dalam Veda dikenal adanya empat kemajuan yang menjadi keberhasilan atau kesuksesan dalam hidup manusia, diistilahkan dengan purusha-artham. Keempatnya adalah dharma, kemajuan nilai-nilai kebajikan dan kewajiban alamiah kita, artham, kemajuan di bidang finansial dan ekonomi, kaamam, kenikmatan atau kenyamanan sensual, dan moksham, keberhasilan akhir, berakhirnya keterpisahan kita dan dipersatukannya kita kembali dengan Tuhan. Moksham merupakan kondisi spiritual tertinggi yang ditandai dengan terbuka sempurnanya seluruh potensi rohani yang terkandung dalam diri sejati setiap unit kehidupan atau jiva, yaitu kekekalan, kesadaran murni atau pengetahuan sempurna, dan kebahagiaan tertinggi (sat, chit, anandam). Maka dari itu moksha ini juga disebut parama-artham, tujuan tertinggi yang paling akhir.

Bagian dalam sebuah Pura Hindu yang dibuat menurut Agama-sastra. Merupakan tempat ditahtakannya Tuhan Sendiri sebagai Archa-avatara (Gb. Pura ISKCON di Bengaluru)

Demikianlah dalam Hindu, maka seluruh kehidupan manusia dengan berbagai kemajuan dan keberhasilannya merupakan serangkaian dengan perjuangan rohaninya. Pura, yang dipandang sebagai pusat rohani, juga berperan sedemikian rupa atau tepatnya dibentuk untuk memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan seorang insan. Pura menjadi sarana untuk meningkatkan, membawa usaha-usaha mencapai berbagai purusha-artha yang telah disebutkan sebelumnya ke tingkat divinitas atau kerohanian yang paling tinggi. Dia membuat usaha membangun kemajuan nilai-nilai kebajikan, kemajuan ekonomi, kenyamanan sensual, dan konsep akan cita-cita keberhasilan tertinggi terarah sepenuhnya kepada Sang Sumber Segalanya, Tuhan Yang Maha Esa, Sri Bhagavan. Ketika suatu tempat seperti ini, yang kita sebut Pura, bertemu dengan konsep Archa-avatara dalam teologi Agamika yang kita bahas sebelumnya, maka terbentuklah suatu perpaduan rohani unik yang membedakan Pura Hindu dengan tempat-tempat sembahyang biasa pada agama lain. Di sinilah Pura memainkan perannya yang sangat khusus untuk meningkatkan kualitas rohani seseorang sekaligus menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam segala aspek kehidupan yang tengah dijalaninya.
Ketika memandang secara superfisial, banyak yang mengeluh bahwa Hindu sepertinya hanyalah suatu agama yang hanya menekankan pada dunia lain, kurang aplikatif dalam mengakomodasi kebutuhan masyarakat dalam kesehariannya. Selain itu juga dirasakan sebagai pengajar konsep kehidupan yang pesimistis, dengan ketergantungannya pada hukum sebab-akibat (karma). Di manakah Tuhan ketika kita membutuhkannya dalam menjalani hidup ini? Perlukah Tuhan ketika segala sesuatunya diterima berdasarkan prinsip “apa yang kau tabur itulah yang kau tuai”? Apakah gunanya menerima Tuhan dari sebuah agama yang penuh dengan ketidakpastian saat kita mengakhiri hidup ini?

Tetapi itu hanyalah satu sisi kecil dari keseluruhan kisah besar Hinduisme, keseluruhan Veda-dharma yang mahaluas ini. Di sana memang ada Tuhan yang mahamutlak, berada di luar sentuhan segala keduniawian, melampaui segala-galanya, tiada terjelaskan, tiada tergambarkan, kevala-nirakara-nirgunam. Tetapi dalam Veda Tuhan juga dijelaskan sebagai Pribadi Tertinggi Yang Mahasempurna. Divinitas yang immanens, yang berada di mana-mana, meresapi segalanya, bersemayam dalam jantung-hati segala sesuatunya dalam ciptaan ini. Tuhan yang penuh dengan sifat-sifat rohani dan kemuliaan. Yang Tertinggi Tiada Taranya, namun juga yang bersedia turun dan hadir di tengah-tengah makhluk fana untuk menjadi pujaan mereka. Mendengar dan menjawab doa-doa mereka. Mendampingi, memberikan penghiburan, turut menanggung penderitaan mereka, dan menghapus airmata kesedihan mereka. Menjadi tujuan penyembahan mereka, sekaligus juga menjadi kekasih pujaan hatinya. Inilah Archa-avatara dalam teologi Agama, yang juga menjadi dasar dari pembuatan sebuah Pura Hindu.

Di dalam Pura ini, Tuhan menjadi serupa dengan kita, begitu dekat dan disayangi bagi kita, walau dalam segala hal jauh melampaui diri kita. Dia bukan sesuatu yang begitu jauh dalam keluhuran-Nya dan tak dapat didekati, sama sekali berada di luar jangkauan umat manusia. Di sini Dia dapat ditemui, dipuja, dan disembah dengan cara yang sedemikian alamiah dan akrab bagi kita. Dalam bentuk yang begitu konkrit, nyata, dan hubungan batiniah antara umat dengan Tuhan Pujaannya begitu erat. Jadi pemujaan di Pura berdasarkan atas sisi praktikal Veda-dharma atau agama Hindu ini. Bila kita mengartikannya dengan tidak sepantasnya atau tidak sejalan dengan konsep ini, maka kita akan kehilangan keseluruhan maknanya yang sedemikian penting.

Catatan:
agama : bahasa Indonesia, pengertian umum diketahui
Agama (huruf besar) atau -agama (dalam rangkaian dengan kata tertentu) : bahasa Sanskrita, pengertiannya seperti pada post Kehadiran Nyata Tuhan di Antara Kita

Rabu, 17 Juni 2009

Narada Pancaratra

Devarishi Narada Mahamunindra,
penyusun Narada Pancaratra

Berikut adalah sekilas isi salah satu pancaratra sastra yaitu Narada Pancaratra yang disampaikan oleh Sri Narada:

Sri Narada Pancaratra
Om namo bhagavate vasudevaya
Sembah sujud hamba kepada Tuhan Yang Tertinggi Vasudeva

Setelah memuliakan Sri Narayana, Nara, yang terbaik di antara manusia, dan Dewi Sarasvati, ijinkanlah kini sang penulis mengucapkan kata “jayam”, sehingga karyanya terselesaikan tanpa halangan. Ganesa, Sesa, Brahma, Mahesvara, Aditya dan para deva lain, Kumara (Sanaka, Sanat dsb), para Muni, Kapila dan para siddha (insan-insan yang sudah mencapai kesempurnaan kekuatan supernatural) yang lainnya. Laksmi, Sarasvati, Durga, Savitri dan Radhika, Devi tertinggi dan teragung, semua ini bersujud tiada henti-hentinya dalam rasa pengabdian yang begitu besar kepada Sri Krishna, Yang Tertinggi, yang wujudnya begitu indah berwarna kebiru-biruan (Syama-sundara-rupa) Yang Tiada Bandingan-Nya. Para mahluk suci, yogi dan Vaishnava senantiasa memusatkan pikiran kepada-Nya, Sang Cahaya Cemerlang yang kemilauan. Param-Brahma ini, Roh Yang Paling Utama, Tuhan dari segala tuhan, bebas dari segala nafsu keinginan, berada di balik Guna Prakriti, tiada ternoda setitik pun dan adalah Yang Mahatinggi, lebih dari Prakriti (Energi Primordial yang menjadi sumber segala manifestasi ciptaan kosmis). Dia adalah Tuhan bagi semuanya, Dia adalah rupa dari semuanya, Dia adalah sebab dari segala sebab, Dia adalah yang Abadi, yang Benar, yang Purba dan Dia adalah Purusa (Pribadi Penikmat) yang tidak terusakkan dan Yang Paling Utama. Dia Mahasuci, hanya Dia yang pantas dikatakan dapat memberikan segala hal yang baik kepada yang lain. Dia adalah kediaman segala kemujuran dan segala hal yang menguntungkan. Dia melakukan apapun kehendak-Nya, Dia adalah kediaman Tertinggi, Bhagavan yang kekal. Veda-veda senantiasa menyanyikan kemuliaan-Nya namun gagal menemukan akhir-Nya, kini hamba mengucapkan pujian kepada Sri Nandanandana, Krishna, yang adalah segala kesukacitaan dan penuh segala kebahagiaan yang tiada batas-Nya. Dia dikasihi oleh para penyembah-Nya, Tuhan bagi para Bhakta-Nya. Dia menjelma demi memberkati para pemuja-Nya. Dia Tuhan bagi Sri, yang menganugerahkan kemakmuran. Dia adalah gudangnya kekayaan, Dialah Sri Krishna, Tuhan bagi Radhika. Dia selalu menginginkan kesejahteraan dan kemakmuran yang lain.


(Perhatikan bagaimana dalam awal penulisan Pancaratra-sastra ini, dilukiskan secara jelas Wujud Pribadi dari Tuhan Tertinggi yang dimuliakan dengan nama Sri Krishna. “Yang Mahamenawan” Tuhan Yang Maha Esa Sri Krishna adalah Kekasih yang mempesona, menaklukkan hati. Inilah ciri khas Agama-sastra dimana Cinta menjadi pusatnya)

Narada menerima Pancaratra-sastra dari Deva Siva atau Mahesvara

Aku kini telah memperoleh pengetahuan yang bagaikan minuman kekekalan dari Sri Guru Sankara (Siva) yang adalah samudera pengetahuan dari yang tertinggi sampai yang terendah, Guru dari para Guru dan Yogi. Aku, Sang Rishi Narada, Putra Brahma, kini menuliskan uraian tentang PANCARATRA ini. Sembari bersujud kepada kaki padma Sri Guru Mahesvara (Siva) dan setelah memerah intisari segala ilmu dalam wujud mentega segar yang diperoleh dengan mengocok empat Veda yang bagaikan samudera susu, dengan tongkat ilmu pengetahuan.

Om, di bawah sebatang pohon beringin, dekat dengan akarnya, di tempat yang sempurna, suci, Sri Narayana Ksetra, dihiasi kekuatan-kekuatan adiduniawi, terletaklah Narayana Ashram di tanah suci Bharatavarsa. Krishna-dvaipayana (Maharsi Vyasadeva), yang adalah bagian dari Sri Krishna Sendiri dan yang amat sangat berbakti kepada Sri Krishna, dengan penuh sukacita memusatkan pikiran kepada kaki padma Sri Krishna, kini tengah duduk dalam sikap Sukhasana sambil mengucapkan dalam keheningan mantra Krishna yang terdiri dari dua aksara, Mantra suci yang tiada berbeda dengan Parambrahman. Maharishi Vyasa ini sangatlah purba, luhur, tak terhancurkan dan adalah penulis semua Purana. Kini Mahamuni Sukadeva, putranya, bertanya kepada Sang Ayah, Rishi Agung yang mahatahu.

Maharishi Vedavyasa atau Bhagavan Krishna Dvaipayana Vyasadeva

Sri Suka berkata, “O Bhagavan! Andalah yang mengetahui sesempurnanya Veda dan Vedanta, mahir sepenuhnya dalam menginsafi tattva-tattva (kebenaran sejati tentang Tuhan, jiwa, dan Alam Semesta). Bermurah hatilah O Yang Mulia, untuk mengungkapkan kepada hamba pengetahuan rahasia yang terkandung dalam Veda. Jenis-jenis, kelompok-kelompok, dan intisari dari “jalan” yang ada di dalamnya. Yang adalah Cahaya, pengusir gelapnya kebodohan. Mohon jelaskanlah hal ini kepada hamba, karena hanya engkaulah satu-satunya yang dapat memberikan pemahaman kepadaku!”

“Adalah ayah sejati yang memberikan pengetahuan dan adalah pengetahuan sejati yang memungkinkan dicapainya pengabdian suci kepada kaki padma Sri Krishna. Adalah cinta yang murni dan suci yang memungkinkan seseorang menjadi hamba Tuhan Sri Krishna. Adalah hal yang terbaik bagi seorang hamba bila dia melayani kaki padma Sri Krishna Vigraha. Mengucapkan doa pujian di hadapan Sri Hari adalah setara dengan tinggal selamanya di Goloka. Memandang kaki padma Sri Krishna tanpa berkedip. Senantiasa membicarakan Diri-Nya dan kemuliaan kegiatan rohani-Nya. Mengabdikan diri sepenuhnya dalam pelayanan kepada-Nya, dan senantiasa bersama-Nya tanpa berpisah adalah keinginan yang paling diidamkan, paling dikehendaki dan paling memuaskan bagi para penyembah-Nya. Inilah yang telah kudengar dari Veda-veda sebagai intisarinya yang tertinggi.”

Mendengar kata-kata Sri Suka, Putranya, Vyasa tersenyum dan menjadi sangat berbahagia melihat Sang Putra adalah Jnani tertinggi (orang yang telah mencapai Kebijaksanaan Agung). Kemudian Muni agung yang mahatahu itu, penuh segala Bhava (gejolak luapan kesukacitaan rohani), memberkati putranya dan mulai mengatakan apa yang telah ia dengar dari bibir suci Gurunya.

Sri Suka putra Bhagavan Vedavyasa yang dimuliakan dan dijunjung oleh semua Maharishi lain karena kesempurnaan rohaninya

Sri Vyasa bersabda, “O Suka! Yang Terberkati, Yang Dimuliakan, engkau adalah penjelmaan segala jasa-jasa kebajikan, Wahai Putra! Adalah melalui dirimu keluarga kita disucikan dan menjadi mukta. Dialah putra sejati yang berbakti kepada Krishna dan dia memperoleh kemashyuran di tanah Bharata. Menyucikan ratusan generasi dan dia tidak akan dilahirkan lagi. Dia membebaskan ibunya, neneknya, ayah dari ibunya, saudaranya, temannya, pelayannya, dan ratusan orang lainnya termasuk istri dan anak-anaknya. Tiga generasi dari keluarga ayah mertuanya, beserta kedua mertuanya akan menjadi jivan-mukta (insan yang mengalami sukacita pembebasan dalam hidup saat itu juga). Bhagavan Brahma sendiri sangatlah berbhakti kepada Sri Krishna. Putra beliau Sri Vasistha juga adalah Bhakta Sri Krishna dan seorang Vaishnava. Sakti, putra Vasistha, juga adalah Vaishnava, pikirannya sepenuhnya terserap dalam samadhi kepada Krishna. Parasara, putra Sakti, ayahku, menjadi Guru dari para Guru dan Guru dari para Yogindra. Dia menjadi jivan-mukta dan Jnani agung dengan melayani kaki padma Krishna. Aku sendiri, telah berhasil membagi Veda dan mengelompokkannya adalah dengan melayani kaki padma Sri Krishna. Guruku adalah Bhagavan Narada, Sang Yogindra. Guru dari Guruku adalah Sambhu (Siva), Guru dari para Guru dan Guru dari para Yogindra. Hasil atas segala jasa-jasa kebajikan itu adalah lahirnya engkau sebagai putraku, penjelmaan dan gudangnya segala Punyam (kebajikan). Sebagaimana matahari bagi bunga teratai, engkau menyinari keluargaku.”

“Bersujud ke hadapan kaki padma Sri Krishna, Guru Narada dan Sambhu, setelah memuliakan Devi Sarasvati, kini aku akan membahas pengetahuan yang mahakekal. Dengarlah kini PANCARATRAM, intisari Veda dan yang diidamkan oleh para bhakta. Inilah yang disayangi melebihi nyawa mereka, lima ajaran agung! Dicintai lebih dari tubuh dan hidup, mahasuci, intisari minuman kekekalan ilmu pengetahuan, inilah Pancaratra.”

Brahma menerima Pancaratra ini dari Sri Krishna di Satasringa

“Pada masa purbakala, di Goloka, di puncak gunung Satasringa, Tuhan Yang Mahakekal Sri Krishna menyabdakannya kepada Brahma, dalam kehadiran Sri Radhika, di tepi Sungai Viraja, pada akar beringin yang indah. O Putra! Brahma mengungkapkan kebaktiannya yang besar kepada Sri Krishna dan mengucapkan doa pujian untuk memuliakan-Nya. Setelah mendengar Pancaratra yang suci ini Brahma bersujud kepada Sri Radhika dan Sri Krishna dan segera bergegas pergi ke Sivaloka.”

“Di sana Mahadeva, duduk dalam sikap sukhasana, bertanya kepada Brahma tentang berita gembira yang dibawanya, tentu saja setelah beliau duduk dan memperoleh penghormatan sebagai Mahabhakta. Setelah ditanya demikian beliau menguraikan ajaran suci Pancaratram kepada Sri Sankara (Siva), duduk di bawah sebatang beringin yang tumbuh di tepi sungai Gangga surgawi. Seusai menjelaskan Pancaratram kepada Mahadeva, satu-satunya yang pantas dimuliakan oleh para Siddhendra dan Munindra, Brahma kembali ke alamnya.”

Pura untuk memuja Brahma Caturmukha (lihat Citra Suci beliau yang berwajah empat) di Pushkara Tirtha

“Sambhu kemudian kembali menurunkan Pancaratram ini kepada siswanya, Sang Muni Narada. Pada saat gerhana matahari, Narada mengulangnya kembali di Pushkara Tirtha. Pada hari yang suci itu aku beruntung mendengarnya dari bibir suci Guru Narada. Karena Pancaratram yang suci ini adalah pelita yang mengusir gelapnya kebodohan, dosa, dan khayalan. Kata ‘ratram’ ini berarti ‘jnanam’, pengetahuan. Inilah pengetahuan yang terdiri dari lima rupa. Oleh karena itu mereka ‘yang melihat’ menyebutnya Pancaratram.”

Danau suci Sri Pushkara Tirtha, Rajasthan dan kota di sekitarnya.

“Inilah pengetahuan tentang Kesejatian tertinggi dan penghancur kelahiran, kematian, usia tua dan penyakit. Sambhu, sang penakluk kematian, mendengarnya dari bibir padma Sri Krishna.” (Ini jenis ajaran yang pertama)
“Ajaran kedua adalah pengetahuan mulia yang diidamkan oleh para Mumuksu (mereka yang menginginkan pembebasan). Sangat luhur, murni dan suci, berbuah pembebasan dan mengarahkan seseorang kepada kaki padma Hari.”
“Ajaran ketiga adalah yang murni, mahasuci dan memberikan Krishna-bhakti. Dengan pengetahuan ini seseorang akan mendapatkan segala keinginannya dan menjadi penyembah Sri Krishna dalam kedudukan sebagai hamba (dasya bhakti).”
“Ajaran keempat adalah Yaugika-jnana dan disukai oleh para Siddha, memberikan segala hal yang diinginkan yaitu:
1. anima: menjadi sekecil-kecilnya, sekecil atom
2. laghima: menjadi seringan-ringannya
3. vyapti: mahaada, meliputi segalanya
4. prakamya: keinginan tak terbatas
5. mahima: menjadi sebesar-besarnya
6. isitvam: menjadi tuan atas segalanya
7. vasitvam: berjaya di atas segalanya
8. kamavasayitva: segala keinginannya terpenuhi
Inilah delapan mahasiddhi yang diperoleh dengan menguasai ajaran keempat.
9. sarvajnam: mahatahu
10. durasravanam: maha mendengar
11. parakayapravesanam: masuk ke dalam tubuh banyak orang, memecah jiwa
12. kayavyuham: membentuk maupun melepas tubuh sekehendak hati, membuat tubuh tak terhancurkan
13. jivadanam: memberi kehidupan bagi seseorang
14. parajivaharanam: mencabut kehidupan dari seseorang
15. sargakartatrtvasilpam: kekuatan mencipta
16. sargasamharakaranam: kekuatan meleburkan”

Siddha Yogi yang sangat terkenal di Tibet, Guru Marpa dan muridnya Milarepa dan seorang Kagyu Lama. Mereka memiliki semua kekuatan ajaib yang disebutkan di atas itu

Sri Nagaraja bersama pasangannya. Siddha yang terkenal juga. Mereka mencapai siddhi kekekalan dan telah hadir membimbing banyak siddha-yogi lain mencapai siddhi. Walau sudah berusia ribuan tahun tetapi beliau tampak sebagai seorang remaja 16 tahun dan masih hidup sampai saat ini di Himalaya. Mereka berdua dikenal sebagai Babaji dan Mataji, Ayah-Ibu para Siddha Himalaya

"Ajaran kelima adalah apa yang dianggap pengetahuan oleh orang-orang duniawi. Bagi mereka inilah pengetahuan tertinggi dimana Maya, Ista Devi pujaan mereka menjadi sebab dari segala khayalan mereka itu.
Dengan pengetahuan ini para jiva menjadi terserap sepenuhnya dalam pemuasan indria-indria dan sibuk memelihara keluarga mereka.”

“Pengetahuan golongan pertama dan kedua adalah sattvika. Golongan ketiga adalah yang Tertinggi dari semuanya dan disebut Nairgunya Jnana. (pengetahuan yang melampaui guna)”
“Golongan keempat adalah Rajasika, para bhakta tidak menyukainya. Golongan kelima adalah tamasika dan hendaknya dihindari oleh orang bijaksana.”
“Para pandita dan sarjana menyebut lima golongan ajaran pengetahuan ini sebagai Pancaratram. Pancaratram ini meningkatkan pengetahuan para jnani dalam tujuh jenis yang berbeda.”
“Tujuh Pancaratram adalah Brahma, Saiva, Kaumara, Vasistha, Kapila, Gautamiya dan Naradiya.”
“Setelah mempelajari dan menguji enam Pancaratram pertama, Veda-veda, Purana, Itihasa, Dharmasastra dan siddhi serta yoga-sastra, dan setelah memperoleh ajaran dari Mahadeva, Narada Muni menyusun Pancaratram ini, intisari segala pengetahuan. Inilah Sri Narada Pancaratram”

diterjemahkan dari NPR Chapt I (1-59) Vijnananand Swami

Senin, 15 Juni 2009

Pancaratrika-agama

Kini kita akan membahas salah satu sistem Agama yang diterapkan dalam tradisi Vaishnava secara luas yaitu Pancaratrika-marga, yang adalah jalan Ketuhanan yang diberikan dalam Tradisi Veda pula. Jalan Pancaratrika bersumber dari kitab-kitab khusus yang disebut Pancaratra-agama-sastra. Jalan Pancaratrika adalah jalan yang sepenuhnya berada di tingkat rohani. Karena Pancaratrika-marga ini berhubungan langsung dengan pengabdian suci yang rohani kepada Bhagavan. Aspek Bhagavan, yang merupakan Aspek Tertinggi Kebenaran Mutlak adalah tujuan langsung dari Pancaratrika-marga. Pribadi Tertinggi Tuhan Yang Maha Esa dipuja melalui Pancaratrika-marga dengan maksud hanya untuk memuaskan Beliau, tanpa tujuan-tujuan duniawi apapun. Sehingga jalan Pancaratrika-marga bisa dikatakan diikuti oleh orang yang bebas dari keinginan duniawi. Jalan para prapanna, mereka yang menerima prapatthi, atau penyerahan diri kepada Sri Bhagavan.

Vishnu melindungi Brahma dengan membunuh Asura Madhu dan Kaitabha

Dikatakan bahwa Pancaratra-sastra diungkapkan untuk pertama kalinya kepada Brahma. Suatu ketika alam semesta dikacaukan oleh dua orang asura yang bernama Madhu dan Kaitabha. Dua asura ini mendapatkan kesaktian yang luar biasa sehingga mereka mampu mencuri Veda dari mana (pikiran) Brahma. Akibat dari disembunyikannya Veda ini keseimbangan seluruh ciptaan menjadi terganggu. Akhirnya Brahma sendiri memohon agar Tuhan bersedia menyelamatkan Veda dari tangan para asura.

Bhagavan Divyajnana-adidevata Sri Hayagriva atau Sri Hayavadana

Tuhan kemudian mewujudkan rupa Beliau sebagai Sri Hayagriva yang berwajah kuda. Tuhan Hayagriva kemudian meremukkan kedua asura itu dan mengembalikan Veda kepada Brahma. Tetapi Brahma kemudian mengatakan bahwa kini dia menyadari betapa alam semesta duniawi ini penuh bahaya. Segala sesuatunya juga penuh ketidakpastian. Oleh karena itu Brahma memohon suatu pengetahuan yang dapat memberikan kesempurnaan secepat-cepatnya.
Atas permohonan Brahma ini kemudian Tuhan Sri Hayagriva menyabdakan intisari pengetahuan Veda. Intisari Veda ini diwahyukan dalam lima malam dan diberi nama pancaratra (Panca-lima, ratri-malam). Inilah awal mula Pancaratra-sastra. Secara tradisi Pancaratra-sastra juga disebut Agama-sastra, artinya adalah “pengetahuan yang tidak akan pernah lenyap”. Juga disebut Tantra-sastra.

Batou-Kannon Jepang atau Hayagriva Lokeshvara dalam agama Buddha Tantrayana. Perhatikan kepala kuda di atas kepala-Nya (click untuk memperbesar)

Tuhan dalam rupa Sri Hayagriva atau Sri Hayavadana dipuja oleh semua garis perguruan yang terutama berdasarkan atas Pancaratra. Beliau disebut sebagai Divya-jnana-adidevata, atau Tuhan Yang Mahamenguasai segala pengetahuan rohani dan rahasia. Para Sri Vaishnava berbahasa Tamil juga menyebut Beliau Gnana-piraan. Setelah agama Buddha Vajrayana berkembang, Sri Hayagriva juga dipuja sebagai manifestasi Lokeshvara atau Avalokiteshvara penjaga pengetahuan-pengetahuan Tantra rahasia. Pemujaan Beliau juga sampai ke Jepang melalui Tantra Buddhis. Di sana Beliau disebut Batou Kannon (Tuhan Berkepala Kuda).

Kemudian ada banyak kitab Pancaratra yang diturunkan melalui Brahma kepada para Rishi dan Deva. Salah satu yang terkenal adalah Narada Pancaratra. Kitab ini diturunkan oleh Dewa Siva kepada Devarishi Narada Muni. Ciri khas Pancaratrika-marga adalah adanya Istha, Wujud Tuhan yang paling dicintai oleh penyembah. Oleh karena itu para pengikut Pancaratrika-marga disebut “ekantin”, yaitu mereka yang hanya memuja satu Tuhan secara eksklusif. Jalan ini sangat monotheistik dan menekankan bahwa kesempurnaan tertinggi hanya dapat diperoleh dengan pengabdian suci kepada Personalitas Tuhan Yang Maha Esa. Ciri yang lain adalah adanya Citra Suci (Arca-Vigraha) dan keyakinan bahwa Citra Suci tiada berbeda dari Parambrahman Sendiri. Beliau dipuja dengan aturan-aturan tertentu dan disiplin rohani yang ketat. Pancaratrika-marga juga disebut Vaidhi-marga, karena disiplin sangat menonjol. Segala hal yang berkaitan dengan pemujaan dan pembentukan Wujud Tuhan dalam Archa (Ikonografi) diatur secara ketat dalam Pancaratra.

Inilah beberapa contoh sketsa yang harus diikuti dalam membentuk Archa, tidak berdasarkan imajinasi tetapi aturan ketat dari Agamasastra seperti Pancaratra.


(click untuk memperjelas)

Plurk

Click untuk perbaiki dunia

Stop Smoking