Minggu, 12 Juli 2009

Peran Pura Dalam Hindu

Pura bagi umat Hindu lebih dari sekedar tempat berkumpul dan bersembahyang

Dalam Hindu, agama dipandang sebagai bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan seseorang, maka dari itu maka konsep inipun harus diterjemahkan atau diterapkan dalam kehidupan keseharian seorang manusia Hindu. Salah satu ekspresi paling umum dari sebuah perasaan keagamaan atau suatu ide-ide relijius adalah usaha untuk menjalin hubungan dengan Tuhan. Ini sering diterjemahkan sebagai doa, sembahyang, pemujaan, dsb. Pura atau Kuil kemudian juga menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam kehidupan keagamaan dalam Hindu, karena di sinilah tempat segala ide-ide relijius itu mendapatkan tempat untuk diungkapkan. Sekilas ini tidak berbeda dengan agama-agama lain yang juga memiliki berbagai tempat sembahyangnya masing-masing seperti Masjid atau Gereja.

Akan tetapi karena dalam Hindu, agama ini bukan lagi dipandang sebagai sekedar identitas diri atau sekedar pengakuan, tetapi menjadi satu dengan inti terdalam kehidupan itu sendiri, maka Pura, sebagai tempat suci Hindu juga dibentuk sebagai bagian dari kehidupan alamiah manusia. Sebenarnya dalam sudut pandang Hindu-Vedic, tidak terdapat garis embarkasi antara kehidupan sekular dan relijius, karena keseluruhan aspek kehidupan itu sendiri telah menjadi satu dengan perjuangan rohani seseorang dalam mencapai tujuan tertingginya atau parama-artham.

Dalam Veda dikenal adanya empat kemajuan yang menjadi keberhasilan atau kesuksesan dalam hidup manusia, diistilahkan dengan purusha-artham. Keempatnya adalah dharma, kemajuan nilai-nilai kebajikan dan kewajiban alamiah kita, artham, kemajuan di bidang finansial dan ekonomi, kaamam, kenikmatan atau kenyamanan sensual, dan moksham, keberhasilan akhir, berakhirnya keterpisahan kita dan dipersatukannya kita kembali dengan Tuhan. Moksham merupakan kondisi spiritual tertinggi yang ditandai dengan terbuka sempurnanya seluruh potensi rohani yang terkandung dalam diri sejati setiap unit kehidupan atau jiva, yaitu kekekalan, kesadaran murni atau pengetahuan sempurna, dan kebahagiaan tertinggi (sat, chit, anandam). Maka dari itu moksha ini juga disebut parama-artham, tujuan tertinggi yang paling akhir.

Bagian dalam sebuah Pura Hindu yang dibuat menurut Agama-sastra. Merupakan tempat ditahtakannya Tuhan Sendiri sebagai Archa-avatara (Gb. Pura ISKCON di Bengaluru)

Demikianlah dalam Hindu, maka seluruh kehidupan manusia dengan berbagai kemajuan dan keberhasilannya merupakan serangkaian dengan perjuangan rohaninya. Pura, yang dipandang sebagai pusat rohani, juga berperan sedemikian rupa atau tepatnya dibentuk untuk memiliki peran yang sangat penting bagi kehidupan seorang insan. Pura menjadi sarana untuk meningkatkan, membawa usaha-usaha mencapai berbagai purusha-artha yang telah disebutkan sebelumnya ke tingkat divinitas atau kerohanian yang paling tinggi. Dia membuat usaha membangun kemajuan nilai-nilai kebajikan, kemajuan ekonomi, kenyamanan sensual, dan konsep akan cita-cita keberhasilan tertinggi terarah sepenuhnya kepada Sang Sumber Segalanya, Tuhan Yang Maha Esa, Sri Bhagavan. Ketika suatu tempat seperti ini, yang kita sebut Pura, bertemu dengan konsep Archa-avatara dalam teologi Agamika yang kita bahas sebelumnya, maka terbentuklah suatu perpaduan rohani unik yang membedakan Pura Hindu dengan tempat-tempat sembahyang biasa pada agama lain. Di sinilah Pura memainkan perannya yang sangat khusus untuk meningkatkan kualitas rohani seseorang sekaligus menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam segala aspek kehidupan yang tengah dijalaninya.
Ketika memandang secara superfisial, banyak yang mengeluh bahwa Hindu sepertinya hanyalah suatu agama yang hanya menekankan pada dunia lain, kurang aplikatif dalam mengakomodasi kebutuhan masyarakat dalam kesehariannya. Selain itu juga dirasakan sebagai pengajar konsep kehidupan yang pesimistis, dengan ketergantungannya pada hukum sebab-akibat (karma). Di manakah Tuhan ketika kita membutuhkannya dalam menjalani hidup ini? Perlukah Tuhan ketika segala sesuatunya diterima berdasarkan prinsip “apa yang kau tabur itulah yang kau tuai”? Apakah gunanya menerima Tuhan dari sebuah agama yang penuh dengan ketidakpastian saat kita mengakhiri hidup ini?

Tetapi itu hanyalah satu sisi kecil dari keseluruhan kisah besar Hinduisme, keseluruhan Veda-dharma yang mahaluas ini. Di sana memang ada Tuhan yang mahamutlak, berada di luar sentuhan segala keduniawian, melampaui segala-galanya, tiada terjelaskan, tiada tergambarkan, kevala-nirakara-nirgunam. Tetapi dalam Veda Tuhan juga dijelaskan sebagai Pribadi Tertinggi Yang Mahasempurna. Divinitas yang immanens, yang berada di mana-mana, meresapi segalanya, bersemayam dalam jantung-hati segala sesuatunya dalam ciptaan ini. Tuhan yang penuh dengan sifat-sifat rohani dan kemuliaan. Yang Tertinggi Tiada Taranya, namun juga yang bersedia turun dan hadir di tengah-tengah makhluk fana untuk menjadi pujaan mereka. Mendengar dan menjawab doa-doa mereka. Mendampingi, memberikan penghiburan, turut menanggung penderitaan mereka, dan menghapus airmata kesedihan mereka. Menjadi tujuan penyembahan mereka, sekaligus juga menjadi kekasih pujaan hatinya. Inilah Archa-avatara dalam teologi Agama, yang juga menjadi dasar dari pembuatan sebuah Pura Hindu.

Di dalam Pura ini, Tuhan menjadi serupa dengan kita, begitu dekat dan disayangi bagi kita, walau dalam segala hal jauh melampaui diri kita. Dia bukan sesuatu yang begitu jauh dalam keluhuran-Nya dan tak dapat didekati, sama sekali berada di luar jangkauan umat manusia. Di sini Dia dapat ditemui, dipuja, dan disembah dengan cara yang sedemikian alamiah dan akrab bagi kita. Dalam bentuk yang begitu konkrit, nyata, dan hubungan batiniah antara umat dengan Tuhan Pujaannya begitu erat. Jadi pemujaan di Pura berdasarkan atas sisi praktikal Veda-dharma atau agama Hindu ini. Bila kita mengartikannya dengan tidak sepantasnya atau tidak sejalan dengan konsep ini, maka kita akan kehilangan keseluruhan maknanya yang sedemikian penting.

Catatan:
agama : bahasa Indonesia, pengertian umum diketahui
Agama (huruf besar) atau -agama (dalam rangkaian dengan kata tertentu) : bahasa Sanskrita, pengertiannya seperti pada post Kehadiran Nyata Tuhan di Antara Kita

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Plurk

Click untuk perbaiki dunia

Stop Smoking