Selasa, 05 Mei 2009

Tuhan Dalam Tiga Aspek (2)

Aspek ketiga diinsafi oleh para Bhagavata. Aspek inilah yang merupakan tujuan tertinggi bagi para Vaishnava, Dvaitavadi, dan Suddha-bhakta. Untuk mencapainya hanyalah ananya-suddha-bhakti, bhakti yang sepenuhnya murni yang menjadi satu-satunya sarana. Bhakti ini berbeda dengan pengertian bhakti yang dianut oleh seorang Advaitavadi. Bagi Advaitavadi bhakti, juga jnana, karma, dan dhyanayoga merupakan sarana mencapai moksa, menunggal dengan Brahman. Bhakti diperlukan pada tahap awal dengan berbagai kegiatan pelayanan, pemujaan, dan penyembahan kepada Saguna Brahman yang tampaknya masih berbeda dengan penyembah-Nya. Sampai penyembah mengembangkan jnana-nya, yaitu menyadari kesatuannya dengan Brahman, maka bhakti ini sudah tidak diperlukan lagi. Bagi Dvaitavadi, bhakti bukanlah sekedar sarana (sadhana) tetapi juga merupakan tujuan tertinggi (sadhya). 

Kebahagiaan yang dirasakan oleh pengikut paham monisme dan pantheisme setelah mencapai kesempurnaan dikenal dengan brahmananda, sukacita dalam persatuan dengan Brahman. Sedangkan kebahagiaan yang dirasakan oleh penganut Dvaita adalah seva-sukha-purnanandaatau premananda, kesukacitaan yang dirasakan dalam pelayanan cintakasihnya kepada Tuhan. Baik dalam tingkat masih terkondisi (baddha), kemudian melaksanakan bhakti-sadhana, sampai mencapai kesempurnaan (siddha), seorang praktisi yang menganut paham Dvaita tetap mempertahankan perbedaannya dengan Tuhan. Bagi Dvaitavadi Tuhan adalah sarvottama, Pribadi Tertinggi yang tiada duanya. Mereka ada yang menerima Abhedatva, tetapi ada pula yang sepenuhnya menolak Abhedatva. Untuk mencapai aspek Tuhan ini Bhedatva adalah sangat fundamental.

Para Bhagavata juga menginsafi dua aspek Tuhan yang lainnya. Mereka memahami adanya Brahman yang tak berwujud. Mereka juga menyadari memiliki sifat-sifat yang sama dengan Brahman, tetapi tetap saja mereka mempertahankan bahwa Brahman berbeda dengan dirinya. Mereka juga memahami bahwa Tuhan sungguh-sungguh meresapi segalanya ini, tetapi tetap saja segalanya ini berbeda dengan Tuhan. Bagi para Dvaitavadi Tuhan tetap adalah sarvottama, Pribadi Tertinggi yang menjadi pusat cintakasihnya dan tujuan pelayanannya. Perbedaan ini, antara Tuhan dengan hamba-Nya adalah kekal. Tanpa adanya perbedaan ini tidak ada cinta, tidak ada prema yang mereka tuju dan tidak ada premananda yang dirasakan. Bagi mereka Aspek Tuhan yang Berpribadi adalah mutlak. Pribadi itu adalah satu-satunya Pribadi Tertinggi yang berbeda dengan segala sesuatu yang ada ini. Pribadi ini kekal, selalu ada. Tidak pernah menjadi ada lalu berhenti ada. Inilah Ekanta, pengabdian yang terpusat pada Satu Pribadi Tunggal. Mungkin ini bisa disebut personal-monotheisme, tetapi Upanishadik atau Vedantik personal-monotheisme. Bagi para Dvaitavadi tidak ada konflik sama-sekali antara pernyataan-pernyataan prasthanatraya Veda-Upanishad (sruti), Vedanta-sutra (nyaya), Gita (smriti), dan Itihasa-Purana. Dengan demikian monotheisme Veda ini berbeda dengan monotheisme agama-agama Abrahamik yang mengabaikan sama sekali dua aspek Tuhan yang lainnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Plurk

Click untuk perbaiki dunia

Stop Smoking